(Resensi Novel Ma Yan Anggitan Sanie b. Kuncoro)
Bandung Mawardi
Kisah sengsara tak usai dalam novel. Sengsara seperti jadi kutukan untuk pengarang menciptakan kisah dengan haru dan impresif. Pengarang dalam mengisahkan sengsara memiliki acuan-acuan melimpah dalam realitas hidup. Sengsara selalu ada untuk menjelma dalam kata dan imajinasi.
Novel Ma Yan ini jadi kamus sengsara dari seorang bocah perempuan di tempat terpencil di Cina. Sengsara membuat Ma Yan sadar atas lakon hidup untuk menerima atau menolak. Ma Yan terkadang merasakan sengsara itu sebagai kutukan karena kekalahan atau kesalahan memberi jawaban hidup dengan sempurna. Kutukan itu tak membuat Ma Yan jatuh dan pasrah. Kutukan mungkin jadi seribu pertanyaan untuk lekas mendapati jawaban.
Ma Yan lahir dari keluarga miskin. Kondisi ini membuat Ma Yan mahfum dengan lapar. Perut orang miskin tak mungkin manja dengan makanan. Lapar seperti ritual dengan pertaruhan hidup. Ibu Ma Yan mengajarakan bahwa lapar itu bakal jadi ingatan tentang hidup. Lapar mungkin jadi tanda seru dari Tuhan. Ma Yan pun tanpa pemberontakan menerima lapar itu sebagai ritual untuk sadar ambang batas hidup dan mati.
Kisah impresif dalam novel ini adalah ikhtiar Ma Yan untuk bisa sekolah. Kemiskinan jadi dalil kepasrahan dan keberanian menempuhi jarak 20 kilometer untuk bisa sekolah. Ma Yan tak lelah untuk menempuh jarak jauh itu dengan berjalan. Jarak jauh mungkin sekadar fantasi jelek. Ma Yan menganggap perjalanan ke sekolah adalah perjalanan merubah hidup dengan pengetahuan dan mimpi indah.
Sekolah jadi sorga kecil untuk Ma Yan. Belajar membuat Ma Yan mahfum bahwa hidup tak selesai dengan tangisan atas kesengsaraan. Manusia mesti membuat hidup jadi berkah dengan pengorbanan dan kerja keras. Ma Yan belajar tekun untuk membuat diri jadi bocah pintar dan patut menciptakan masa depan dengan wajah cerah. Ma Yan terbukti menjadi sosok pintar di sekolah dengan peringkat atas.
Sengsara di sekolah membuat Ma Yan membuat pertaruhan berat. Ma Yan menginginkan pena untuk menulis. Harga pena mahal. Ma Yan terlanjur memiliki hasrat untuk menulis dengan pena. Keluarga tak mungkin memberi uang demi pena. Ma Yan pun merelakan tubuh jadi lapar karena uang jatah untuk makan siang disiman dan dikumpulkan untuk membeli pena. Lapar itu bisa ditanggungkan. Ma Yan sanggup lapar tapi tak sanggup untuk tidak menulis dengan pena.
Ikhtiar itu terpenuhi meski lapar. Pengakuan Ma Yan: “Aku harus menahan lapar selama lima belas hari hanya untuk membeli sebatang pena.” Pena membuat Ma Yan menemukan gairah hidup. Pena itu bakal jadi juru bicara Ma Yan untuk mengisahkan diri dalam buku harian. Ma Yan merasa bahwa dengan mencatatkan kisah hidup bakal ada refleksi hidup dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Catatan harian Ma Yan pun sesak dengan kisah sengsara tapi ada percik-percik harapan. Harapan itu membuat Ma Yan tak letih menciptakan mimpi untuk perubahan hidup.
Kisah dramatis itu mungkin membuat pembaca merasa haru. Selesaiakah sekadar dengan haru? Pengarang seperti mengajukan risalah edukasi dalam fragmen itu biar pembaca mahfum dengan kondisi pendidikan kaum miskin di negeri ini. Risalah itu jadi representasi dari nasib orang miskin ketika tak mungkin sekolah atau sekolah dengan pelbagai keterbatasan. Sekolah adalah hak.
Ma Yan sadar atas hak sekolah tapi selalu tertundukkan oleh kemiskinan dan ketiadaan perhatian dari pemerintah. Fasilitas minimal untuk sekolah kerap tak terpenuhi. Miskin mungkin momok untuk membuat orang terima dengan kutukan sengsara. Ma Yan ingin merubah kutukan itu tapi dalam batas tertentu kalah oleh kemiskinan. Ma Yan sempat berhenti sekolah karena orang tua tak memiliki dana. Jeda berhenti sekolah itu membuat Ma Yan sengsara seperti masuk neraka jahanam.
Pelbagai kisah sengsara dan harapan selalu dikekalkan Ma Yan dalam buku harian. Pena menjadi sarana untuk testimoni. Pena itu membuat Ma Yan masih memiliki gairah belajar. Catatan-catatan dalam buku pun menunjukkan optimisme Ma Yan untuk membuat hidup jadi indah dan lepas dari kesengsaraan. Ma Yan menulis: “Bersekolah adalah jalan menuju masa depan. Kita harus mengambil jalur yang benar. Bukan malah melantur ke jalan yang menyesatkan.” Ma Yan pada halaman lain mencatat: “Jika sekiranya aku berhasil dalam hidup, keberhasilanku adalah keberhasilan Ibu. Aku akan selalu mengingtanya.”
Optimisme memuncak dalam catatan ini: “Aku harus bekerja keras dan mengikuti ujian masuk universitas bergengsi. Kemudian aku akan dapat pekerjaan supaya Ibu bisa menikmati makanan hingga benar-benar kenyang dan menjalani kehidupan yang lebih baik..” Optimisme itu membuat Ma Yan sanggup menjalani hidup dengan melawan kesengsaraan.
Orang miskin dengn pesismisme mungkin lekas mati atau menciptakan sengsara abadi. Ma Yan ingin perubahan dalam hidup. Pesimisme mesti dikubur atau dikalahkan meski terus jadi bayang-bayang mengancam. Kondisi keluarga menjadi fakta untuk perangkap pesimisme. Ma Yan ketika berhenti sekolah mendapati alasan tak ada uang. Alasan itu diimbuhi karena dia perempuan. Pesimisme sempat hinggat karena alasan-alasan itu kentara memaksa dan menekan.
Kisah-kisah sengsara Ma Yan adalah tanda tanya dan tanda seru untuk kaum miskin dan hak sekolah. Novel dengan muatan inspirasi edukasi ini pantas jadi acuan untuk refleksi dan melakukan aksi perubahan atas kondisi pendidikan di Indonesia. Sekolah adalah hak. Pemerintah mesti melunaskan hak itu dengan pelbagai konstitusi, sistem, dan praktik untuk membuat perubahan hidup. Kaum miskin patut memiliki optimisme perubahan hidup. Sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi jalan untuk menentukan arah hidup.
Novel Ma Yan adalah risalah sengsara untuk mengingatkan pembaca tentang optimisme. Ma Yan mengingatkan dalam tanya: “Orangtua menaruh harapan agar anak-anak mereka kelak menjadi orang-orang yang pandai, tapi setelah mengalami begitu banyak tahun belajar yang sulit, bagaimana bisa mereka memenuhi harapan-harapan itu?”
Dimuat di Lampung Post (31 Mei 2oo9)
Selasa, 09 Juni 2009
Senin, 08 Juni 2009
Politisasi Mitos Pangeran Samudro
Oleh: Haris Firdaus
KONTROVERSI terhadap tafsir kepercayaan masyarakat dan kepentingan penguasa selalu saja berseberangan.
Dalam kisah Pangeran Samudro, warga Desa Pandem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, percaya ia adalah sosok pelindung rakyat dari kesewenang-wenangan penguasa.
Bagi penduduk kawasan Gunung Kemukus, mitos Pangeran Samudro adalah sesuatu yang penting karena melalui mitos tersebut masyarakat menemukan harapan dari keterdesakan hidup yang mendera mereka.
Namun, bagi pemerintah, mitos Pangeran Samudro juga memiliki arti penting sehingga pada era Orde Baru pemerintah mulai ‘membuat’ kisah tentang Pangeran Samudro yang berbeda dengan keyakinan masyarakat setempat.
Pemerintah Kabupaten Sragen melalui informasi yang tertera di dalam website resminya menyebut Pangeran Samudro adalah putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit yang memerintah di masa keruntuhan kerajaan itu pada sekitar 1478. Tatkala Majapahit runtuh karena serangan Kerajaan Demak, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri tapi justru ikut serta ke Demak.
Oleh Sultan Demak, Pangeran Samudro kemudian diperintahkan belajar Islam kepada Sunan Kalijaga dan Kyai Ageng Gugur. Setelah pembelajarannya tentang Islam selesai, Pangeran Samudro sempat berdakwah di beberapa tempat sebelum akhirnya meninggal di Dukuh Doyong, Kecamatan Miri, Sragen. Ia kemudian dimakamkan di sebuah bukit di sebelah barat Dukuh Doyong. Bukit itulah yang kini dikenal sebagai Gunung Kemukus.
Mitos versi Pemerintah Kabupaten Sragen ini berbeda dengan mitos yang diyakini penduduk sekitar Gunung Kemukus. Para penduduk asli daerah itu yakin Pangeran Samudro bukanlah orang yang tunduk dan mau bekerja sama dengan Demak ketika Majapahit runtuh.
Sebaliknya, mereka yakin bahwa Pangeran Samu dro justru terus melakukan perlawanan terha dap Kerajaan Demak. Ia dianggap pahlawan ba gi rakyat sekitar karena membela wilayah Gu nung Kemukus dari serbuan Demak.
Masyarakat di kawasan Gunung Kemukus juga yakin bahwa Pangeran Samudro adalah pengabdi budaya Jawa abangan dan bukan pendakwah Islam seperti diyakini Pemerintah Sragen.
Perbedaan pemahaman tentang Pangeran Samudro antara masyarakat lokal Gunung Kemukus dan pemerintah bukan disebabkan perbedaan sumber sejarah.
Sebab, sumber sejarah yang sahih tentang Pangeran Samudro memang belum pernah ditemukan.
Perbedaan penafsiran itu sangat mungkin lebih bersifat ‘politis’. Orlando de Guzman (2006: 43) menyebut bahwa pemerintah Orde Baru berusaha ‘menyesuaikan’ mitos Pangeran Samudro dengan gagasan-gagasan Pancasila untuk ‘membersihkan’ daerah itu dari pengaruh Partai Komunis Indonesia. Pada 1960-an, kawasan Gunung Kemukus memang merupakan daerah basis PKI.
Selain itu, penafsiran baru ala pemerintah sangat mungkin berkaitan dengan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Pengambilalihan Gunung Kemukus oleh Pemkab Sragen dan pengumuman rencana pembangunan Waduk Kedung Ombo berlangsung pada tahun yang sama pada 1983 mendapat banyak tentangan.
Penolakan itu dihadapi pemerintah dengan pemberian ‘tafsir baru’ bahwa Pangeran Samudro diceritakan sebagai sosok yang juga menganut sejumlah nilai yakni ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menghargai orang tua sebagai perantara lahir manusia ke dunia dan selalu taat dan setia kepada negara. Juga, sebagai seorang tokoh pendamai serta pemersatu bangsa dan selalu bertanggung jawab.
Dalam penafsiran versi pemerintah ini, terlihat kalau pemerintah Orde Baru ingin menunjukkan Pangeran Samudro adalah penganut sejumlah nilai yang bersesuaian dengan Pancasila dan juga memiliki ketaatan pada negara.
Tapi upaya memonopoli tafsir tentang mitos Pangeran Samudro tampaknya tidak membuahkan hasil yang signifi kan. Justru ketika sengketa Waduk Kedung Ombo berlangsung, mitos Pangeran Samudro versi penduduk asli menjadi tambah populer.
Bagi mereka yang menolak pindah, Pangeran Samudro adalah sosok yang melambangkan kesengsaraan rakyat kecil karena kesewenang-wenangan penguasa.
Masyarakat asli Gunung Kemukus secara baik justru menjadikan mitos tersebut sebagai ‘pertahanan diri’ guna menghadapi tekanan fi sik dan represi psikologis dari pemerintah Orde Baru.
Dimuat di Media Indonesia, 6 Juni 2009
KONTROVERSI terhadap tafsir kepercayaan masyarakat dan kepentingan penguasa selalu saja berseberangan.
Dalam kisah Pangeran Samudro, warga Desa Pandem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, percaya ia adalah sosok pelindung rakyat dari kesewenang-wenangan penguasa.
Bagi penduduk kawasan Gunung Kemukus, mitos Pangeran Samudro adalah sesuatu yang penting karena melalui mitos tersebut masyarakat menemukan harapan dari keterdesakan hidup yang mendera mereka.
Namun, bagi pemerintah, mitos Pangeran Samudro juga memiliki arti penting sehingga pada era Orde Baru pemerintah mulai ‘membuat’ kisah tentang Pangeran Samudro yang berbeda dengan keyakinan masyarakat setempat.
Pemerintah Kabupaten Sragen melalui informasi yang tertera di dalam website resminya menyebut Pangeran Samudro adalah putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit yang memerintah di masa keruntuhan kerajaan itu pada sekitar 1478. Tatkala Majapahit runtuh karena serangan Kerajaan Demak, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri tapi justru ikut serta ke Demak.
Oleh Sultan Demak, Pangeran Samudro kemudian diperintahkan belajar Islam kepada Sunan Kalijaga dan Kyai Ageng Gugur. Setelah pembelajarannya tentang Islam selesai, Pangeran Samudro sempat berdakwah di beberapa tempat sebelum akhirnya meninggal di Dukuh Doyong, Kecamatan Miri, Sragen. Ia kemudian dimakamkan di sebuah bukit di sebelah barat Dukuh Doyong. Bukit itulah yang kini dikenal sebagai Gunung Kemukus.
Mitos versi Pemerintah Kabupaten Sragen ini berbeda dengan mitos yang diyakini penduduk sekitar Gunung Kemukus. Para penduduk asli daerah itu yakin Pangeran Samudro bukanlah orang yang tunduk dan mau bekerja sama dengan Demak ketika Majapahit runtuh.
Sebaliknya, mereka yakin bahwa Pangeran Samu dro justru terus melakukan perlawanan terha dap Kerajaan Demak. Ia dianggap pahlawan ba gi rakyat sekitar karena membela wilayah Gu nung Kemukus dari serbuan Demak.
Masyarakat di kawasan Gunung Kemukus juga yakin bahwa Pangeran Samudro adalah pengabdi budaya Jawa abangan dan bukan pendakwah Islam seperti diyakini Pemerintah Sragen.
Perbedaan pemahaman tentang Pangeran Samudro antara masyarakat lokal Gunung Kemukus dan pemerintah bukan disebabkan perbedaan sumber sejarah.
Sebab, sumber sejarah yang sahih tentang Pangeran Samudro memang belum pernah ditemukan.
Perbedaan penafsiran itu sangat mungkin lebih bersifat ‘politis’. Orlando de Guzman (2006: 43) menyebut bahwa pemerintah Orde Baru berusaha ‘menyesuaikan’ mitos Pangeran Samudro dengan gagasan-gagasan Pancasila untuk ‘membersihkan’ daerah itu dari pengaruh Partai Komunis Indonesia. Pada 1960-an, kawasan Gunung Kemukus memang merupakan daerah basis PKI.
Selain itu, penafsiran baru ala pemerintah sangat mungkin berkaitan dengan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Pengambilalihan Gunung Kemukus oleh Pemkab Sragen dan pengumuman rencana pembangunan Waduk Kedung Ombo berlangsung pada tahun yang sama pada 1983 mendapat banyak tentangan.
Penolakan itu dihadapi pemerintah dengan pemberian ‘tafsir baru’ bahwa Pangeran Samudro diceritakan sebagai sosok yang juga menganut sejumlah nilai yakni ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menghargai orang tua sebagai perantara lahir manusia ke dunia dan selalu taat dan setia kepada negara. Juga, sebagai seorang tokoh pendamai serta pemersatu bangsa dan selalu bertanggung jawab.
Dalam penafsiran versi pemerintah ini, terlihat kalau pemerintah Orde Baru ingin menunjukkan Pangeran Samudro adalah penganut sejumlah nilai yang bersesuaian dengan Pancasila dan juga memiliki ketaatan pada negara.
Tapi upaya memonopoli tafsir tentang mitos Pangeran Samudro tampaknya tidak membuahkan hasil yang signifi kan. Justru ketika sengketa Waduk Kedung Ombo berlangsung, mitos Pangeran Samudro versi penduduk asli menjadi tambah populer.
Bagi mereka yang menolak pindah, Pangeran Samudro adalah sosok yang melambangkan kesengsaraan rakyat kecil karena kesewenang-wenangan penguasa.
Masyarakat asli Gunung Kemukus secara baik justru menjadikan mitos tersebut sebagai ‘pertahanan diri’ guna menghadapi tekanan fi sik dan represi psikologis dari pemerintah Orde Baru.
Dimuat di Media Indonesia, 6 Juni 2009
Kaisar Jawa
Oleh: Heri Priyatmoko
Jepang tidak akan berani menyerang Jawa seandainya rajanya masih Paku Buwana (PB) X. Begitulah kalimat yang terlontar dari mulut seorang perempuan pensiunan guru berusia enam puluh tahun pada era 1980-an saat diwawancarai John Pemberton, penulis buku “Jawa” (2003). Bagi kaum sepuh, PB X merupakan raja sejati. Maka, tidaklah heran jika Kuntowijoyo lewat penelitiannya “Raja, Kawula dan Priyayi” (2004), menemukan julukan PB X sebagai Kaisar Jawa.
Secara simbol, kedudukan PB X sebagai raja pusat dunia di mana makro kosmos dan mikro kosmos bertemu, yaitu khalifatullah dan panatagama. Sedangkan secara faktanya, posisi dia berada di bawah pemerintah kolonial Belanda. Bahkan, dia menyebut residen dengan nama “bapa” dan memanggil gubernur dengan panggilan “eyang”. Dari catatan pelancong Jerman yang berkunjung ke Solo, dikatakan, raja dipandang begitu tinggi oleh rakyatnya, tapi ia tak pernah menjadi orang bebas. Hendak keluar dari keraton saja harus minta restu residen. PB X merupakan “tawanan” dalam keraton.
Seperti yang tersurat dalam laporan serah terima jabatan Residen Surakarta van Wijk tanggal 29 Desember 1913 dan Sollewyn Gelpke tanggal 4 Februari 1918 bahwa PB X memiliki karakter lemah dan manja. Suka pakaian kebesaran yang bagus, bintang penghargaan, perempuan, minuman keras dan makanan enak sampai badannya gemuk. Pengetahuan mengenai ilmu hitung dan bahasa Belanda sangat jeblok.
Agar timbangan tidak berat sebelah, maka perlulah di sini diungkapkan pula sumber yang berasal dari keraton mengenai siapa diri PB X karena sumber Belanda cukup menurunkan derajat PB X sebagai raja terbesar di dinasti Kerajaan Mataram Islam. Dalam Serat Wedhamadya dijelaskan, PB X pada ulang tahunnya yang ke-33 diumpamakan sebagai Kresna, titisan Dewa Wisnu, dewa ngejawantah. Sebelum mengenal alkohol dan bergaya hidup hedonis, PB X bertubuh ramping, kumis bagus, mulut kecil, dan bibir bagus.
Kemudian Serat Sri Karongrong karangan R.Ng. Purbadipura cetakan 1913-1914 yang ditulis untuk menyambut perkawinan PB X dengan putri Hamengku Buwana VII, mengisahkan kehidupan sehari-hari raja. Diriwayatkan, saat kunjungan raja ke “kagungan Dalem pameran” di Semarang, dengan sengaja sikap acuh tak acuh, PB X memilih tidak mengamati barang-barang pameran, melainkan duduk megah di dekat pintu masuk paviliun dan memerintahkan para pengiringnya untuk jalan terus dan menonton. PB X sering memerintahkan abdi dalem untuk menyematkan jajaran medali-medali kehormatan ke punggungnya. Ini merupakan tindakan protes terhadap campur tangan Belanda dalam urusan keraton. Ada pula cerita lucu di tempo doeloe. Kaisar Jawa ini melakukan lawatan dan menginap di hotel, kotoran beliau dikumpulkan oleh pelayan keraton untuk dibawa pulang, agar tidak terjadi kerusakan ekologi kosmik.
Daun kalender menunjuk angka 20 Februari 1939, PB X tutup yuswa. Ternyata, tanggal itu bertepatan tanggal satu sura. Sebuah hari pertama yang sangat keramat dari tahun baru Jawa bagi masyarakat Jawa. Ini perlambang bahwa bersamaan dengan mangkatnya PB X, kesaktian Pakubuwanan akan habis. Oleh karena itu, dari lusinan anak-anak PB X yang lahir, tidak satu pun memiliki bakat-bakat khusus yang harus dimiliki seorang raja.
(Dimuat Solopos, 04 Juni 2009)
Jepang tidak akan berani menyerang Jawa seandainya rajanya masih Paku Buwana (PB) X. Begitulah kalimat yang terlontar dari mulut seorang perempuan pensiunan guru berusia enam puluh tahun pada era 1980-an saat diwawancarai John Pemberton, penulis buku “Jawa” (2003). Bagi kaum sepuh, PB X merupakan raja sejati. Maka, tidaklah heran jika Kuntowijoyo lewat penelitiannya “Raja, Kawula dan Priyayi” (2004), menemukan julukan PB X sebagai Kaisar Jawa.
Secara simbol, kedudukan PB X sebagai raja pusat dunia di mana makro kosmos dan mikro kosmos bertemu, yaitu khalifatullah dan panatagama. Sedangkan secara faktanya, posisi dia berada di bawah pemerintah kolonial Belanda. Bahkan, dia menyebut residen dengan nama “bapa” dan memanggil gubernur dengan panggilan “eyang”. Dari catatan pelancong Jerman yang berkunjung ke Solo, dikatakan, raja dipandang begitu tinggi oleh rakyatnya, tapi ia tak pernah menjadi orang bebas. Hendak keluar dari keraton saja harus minta restu residen. PB X merupakan “tawanan” dalam keraton.
Seperti yang tersurat dalam laporan serah terima jabatan Residen Surakarta van Wijk tanggal 29 Desember 1913 dan Sollewyn Gelpke tanggal 4 Februari 1918 bahwa PB X memiliki karakter lemah dan manja. Suka pakaian kebesaran yang bagus, bintang penghargaan, perempuan, minuman keras dan makanan enak sampai badannya gemuk. Pengetahuan mengenai ilmu hitung dan bahasa Belanda sangat jeblok.
Agar timbangan tidak berat sebelah, maka perlulah di sini diungkapkan pula sumber yang berasal dari keraton mengenai siapa diri PB X karena sumber Belanda cukup menurunkan derajat PB X sebagai raja terbesar di dinasti Kerajaan Mataram Islam. Dalam Serat Wedhamadya dijelaskan, PB X pada ulang tahunnya yang ke-33 diumpamakan sebagai Kresna, titisan Dewa Wisnu, dewa ngejawantah. Sebelum mengenal alkohol dan bergaya hidup hedonis, PB X bertubuh ramping, kumis bagus, mulut kecil, dan bibir bagus.
Kemudian Serat Sri Karongrong karangan R.Ng. Purbadipura cetakan 1913-1914 yang ditulis untuk menyambut perkawinan PB X dengan putri Hamengku Buwana VII, mengisahkan kehidupan sehari-hari raja. Diriwayatkan, saat kunjungan raja ke “kagungan Dalem pameran” di Semarang, dengan sengaja sikap acuh tak acuh, PB X memilih tidak mengamati barang-barang pameran, melainkan duduk megah di dekat pintu masuk paviliun dan memerintahkan para pengiringnya untuk jalan terus dan menonton. PB X sering memerintahkan abdi dalem untuk menyematkan jajaran medali-medali kehormatan ke punggungnya. Ini merupakan tindakan protes terhadap campur tangan Belanda dalam urusan keraton. Ada pula cerita lucu di tempo doeloe. Kaisar Jawa ini melakukan lawatan dan menginap di hotel, kotoran beliau dikumpulkan oleh pelayan keraton untuk dibawa pulang, agar tidak terjadi kerusakan ekologi kosmik.
Daun kalender menunjuk angka 20 Februari 1939, PB X tutup yuswa. Ternyata, tanggal itu bertepatan tanggal satu sura. Sebuah hari pertama yang sangat keramat dari tahun baru Jawa bagi masyarakat Jawa. Ini perlambang bahwa bersamaan dengan mangkatnya PB X, kesaktian Pakubuwanan akan habis. Oleh karena itu, dari lusinan anak-anak PB X yang lahir, tidak satu pun memiliki bakat-bakat khusus yang harus dimiliki seorang raja.
(Dimuat Solopos, 04 Juni 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)