Kamis, 24 September 2009

Ki Padmasusastra dan Jawa Naratif

Bandung Mawardi

Ki Padmasusastra (1843-1926) mencatatkan diri sebagai Bapak Sastra Jawa Modern tapi kerap terlupakan dan terpinggirkan. Pelupaan itu merupakan efek dari opini publik yang percaya bahwa kesusastraan Jawa tamat oleh Ranggawarsita sebagai pujangga Jawa terakhir. Nama Ki Padmasusastra pun jarang dikenali dan buku-buku tentang bahasa, sastra, dan kebudayaan Jawa yang telah diterbitkan kurang mendapati perhatian. Ki Padmasusastra adalah pokok dan tokoh yang kontroversial tapi mendekam dalam tumpukan masa lalu sastra Jawa.

* * *

George Quinn (1992) menyebut Ki Padmasusastra adalah pengembara, wartawan, cendekiawan, guru, dan orang terkucil. Sosok inilah yang mengawali pembentukan novel Jawa modern. Kompetensi sastra Ki Padmasusastra merupakan percampuran konstruktif dan kritis dari akar Jawa dan norma-norma sastra Eropa. Pengaruh Eropa secara intensif berasal dari interaksi dengan Van der Pant, H.A. De Nooy, A.H.J.G.. Walbeehm, J.A. Wilkens, G.A.J Hazeu, H.N. Killin, dan Winter. Kekuatan akar tradisi sastra Jawa didapati dari pujangga Ranggawarsita. Ki Padmasusastra juga memiliki pergaulan intensif dengan pujangga-pujangga besar di Solo: Mangkunegara IV dan Pakubuwana IX. Dua pujangga ini merepresentasikan sastra keraton yang adiluhung. Sumber-sumber itu diolah dengan lincah dan memukau oleh Ki Padmasusastra sebagai prolog genre sastra Jawa modern dengan pergulatan estetika yang menegangkan antara tradisi dan modernitas.

Laku sastra Ki Padmasusastra semakin keranjingan ketika menduduki jabatan kepala perpustakaan di Museum Radya Pustaka (Solo) yang didirikan oleh Patih Sasradiningrat IV pada tahun 1890. Kedudukan itu membuat Ki Padmasusastra suntuk dengan naskah-naskah Jawa. Kompetensi dalam bahasa dan sastra Jawa juga dibuktikan dengan peran sebagai penyunting untuk jurnal Sasadhara, Candrakanta, dan Wara Darma. Peran itu merupakan sambungan dari kerja Ki Padmasusastra ketika menjadi redaktur di majalah Bramartani. Majalah yang terbit di Solo ini jadi pemula dalam jagad pers di Jawa.

Puncak dari laku kreatif Ki Padmasusastra dalam dunia bahasa dan sastra Jawa adalah penerbitan buku Serat Paramabasa (1883), Serat Urapsari (1896), Serat Bauwarna (1898), Serat Warna Basa (1900), Serat Tatacara (1907), Layang Basa Sala (1911), Serat Piwulang Becik (1911), Serat Rangsang Tuban (1913), Serat Pathi Basa (1916), Prabangkara (1921), Kandha Bumi (1924), dan lain-lain. Serat Rangsang Tuban dijadikan contoh sahih oleh George Quinn sebagai teks yang mengandung ciri wacana novelistik modern dalam sastra Jawa. Buku-buku ini jadi tonggak kemodernan bahasa dan sastra Jawa dalam arus modernitas, bayang-bayang kolonial, dan dominasi otoritas para pakar Jawa dari Belanda..

Kehadiran Serat Rangsang Tuban menjadi titik kritis perubahan dalam sastra Jawa. Ki Padmasusastra dengan eksplisit mengonstruksi teks sastra dengan kesadaran modern. Sri Widati (2001) mencatat bahwa fakta pembaruan dalam Serat Rangsang Tubang adalah pemunculan tema emansipasi perempuan, pandangan pengarang untuk mementingkan ilmu pengetahuan, dan pemakaian bahasa Jawa sehari-hari. Fakta itu juga diimbuhi dengan ikhtiar Ki Padmasusastra untuk bebas dari patronisme sastra dan kebudayaan keraton.

Ketegangan konvensi sastra Jawa tradisional dengan sastra modern membuat Ki Padmasusastra dalam permainan risiko. Permainan ini dilakoni Ki Padmasusastra dengan menjuluki diri sendiri sebagai tiyang mardika kang marsudi kasusastran Jawi (orang merdeka yang menekuni sastra Jawa) dalam publikasi naskah. Sebutan ini digunakan sebagai wacana tandingan terhadap stereotipe pujangga Jawa masa lalu dan masa itu. Imam Supardi (1961) menafsirkan sebutan itu sebagai sikap merendah untuk menunjukkan secara jujur pertumbuhan kesadaran baru dalam jagad sastra Jawa dan perbedaan diri Ki Padmasusastra dengan pujangga-pujangga lama.

Ki Padmasusastra merupakan contoh risiko pergulatan dalam sastra Jawa peralihan dari tradisional ke modern yang berada di luar keraton atau elitisme sastra. Ki Padmasusastra melakukan kritik, pembangkangan, dan resistensi terhadap normativitas sastra Jawa tradisional. Spirit pembebasan dimunculkan dan menemukan bentuk pada teknik gancaran (prosaik atau naratif) sebagai tandingan dari tradisi puisi yang sejak lama menguasai sastra Jawa tradisional. Laku sastra yang progresif itu jadi pemicu kesadaran emansipatif dalam penulisan sastra Jawa modern dengan ketegangan konvensi estetik.

* * *

Buku Ki Padmasusastra yang kritis dan kontroversial terhadap orang dan kebudayaan Jawa adalah Tatacara: Adat Sarta Kalakuwanipun Titiyang Jawi ingkang Taksih Lumengket dhateng Gugon Tuhon (Praktik Adat dan Perilaku Orang Jawa yang Masih Memercayai Takhayul) yang terbit pada tahun 1907. Buku ini secara substantif mengungkapkan bahwa orang Jawa masih percaya takhayul pada abad XIX dan permulaan abad XX. Kritik pedas ini membuktikan ketelatenan dan jagat pikir yang analitis dari Ki Padmasusastra terhadap komodifikasi orang dan kebudayaan Jawa yang kerap mengacu pada tradisi elite dan keraton.

John Pamberton (2003) menjuluki Ki Padmasusastra sebagai etnografer modern Jawa yang pertama. Julukan ini pantas dilekatkan pada Ki Padmasusastra karena dedikasi membaca dan menilai Jawa dari luar keraton. Ki Padmasusastra yang lahir dan besar dari kalangan priyayi di Solo memilih untuk menekuni laku estetika yang kritis dengan mengolah normativitas Jawa dan kritisisme Eropa. Kritik terhadap takhayul jadi hantaman keras dalam konstruksi modernitas yang tampak di Jawa pada awal abad XX.

Buku Tatacara digarap dan dirampungkan selama sebelas tahun (1893-1904). Buku itu memiliki prolog kesedihan dan kepasrahan atas realitas dan pengetahuan Jawa: “Dengan perasaan takjub ini seakan-akan dunia sudah dipenuhi oleh pengetahuan, padat, tidak ada tempat yang tersisa. Berpikir sudah menjadi pekerjaan berat, seakan-akan sedang menyibak kabut tebal yang menutupi permukaan bumi, dan saya merasa terdesak keluar seakan-akan tak ada lagi tempat untuk saya.”

Perasaan itu lumrah muncul karena dalam jagat sastra dan pengetahuan Jawa telah dieksplorasi dan diwartakan oleh pujangga-pujangga ampuh masa lalu. Ki Padmasusastra mafhum bahwa deretan panjang khazanah literatur Jawa menjadi bukti sifat kapujanggan yang mengakar dalam kebudayaan Jawa. Ironi dari teks-tek itu adalah ketidaksanggupan orang-orang Jawa untuk memetik hikmah dengan kritis dan implikatif.

Ki Padmasusastra dengan gamblang memberi kritik bahwa ketidaksanggupan atau ketidakmauan itu karena orang-orang Jawa tidak memiliki cara untuk membaca, memahami, dan merealisasikan. Orang-orang Jawa sekadar khusuk dalam kekaguman atas khazanah Jawa. Ki Padmasusastra mengungkapkan bahwa hikmah khazanah literatur Jawa itu malah “dipetik dan disebarkan lagi oleh sarjana-sarjana Eropa, pengetahuan ini tumbuh lagi dengan lebih subur, mengisi dunia.” Fakta ini membuat Ki Padmasusastra sadar atas konstruksi Jawa yang dengan terbuka bisa dilakukan oleh sarjana-sarjana Eropa sebagai tandingan atas pemahaman orang-orang Jawa terhadap Jawa sebagai kultur dan pengetahuan.

Ki Padmasusastra mengatakan: “Dan sekarang, pakar-pakar terbesar dalam sastra Jawa berasal dari bangsa lain, kembali ke sini untuk mengajar kembali orang-orang Jawa.” Fakta ironi ini masih memiliki sambungan faktual sampai hari ini. Ki Padmasusatra menjadikan kitab Tatacara sebagai representasi untuk menjawab utang pada pakar-pakar asing tentang Jawa. Pembayaran utang itu belum lunas sampai hari oleh para pujangga-pujangga Jawa yang masih tekun mengurusi sastra Jawa.

* * *

Lakon Ki Padmasusastra adalah ironi untuk sastra Jawa dan sastra-sastra etnis di Indonesia. Kompetensi pengetahuan tentang sastra Jawa justru dimiliki pakar-pakar asing. Fakta ini adalah tanda seru dan tanda tanya. Kesadaran mesti ditumubuhkan kembali untuk untuk perayaan dan masuk kembali ke dalam rumah sastra etnis. Kesadaran itu adalah kodrat untuk memiliki dan mewartakan pada dunia tentang sastra etnis memiliki jejak historis dan belum ingin mati. Sastra etnis tak mati jika ada mekanisme untuk menghidupi dan menyemaikan dengan antusiasme yang kritis. Begitu.



Dimuat di Kompas (15 Agustus 2oo9)

Tidak ada komentar: