Minggu, 23 Agustus 2009

Impian Bocah Kampung

Bandung Mawardi

Judul : King
Penulis : Iwok Abqary
Penerbit : Gradien Mediatama, Yogyakarta
Cetak : 2009
Tebal : 152 halaman

Keluarga Indonesia patut memberi sambutan hangat untuk penerbitan novel adaptasi King. Novel ini sengaja diluncurkan untuk memberi penguatan atas peradaran dan pemutaran film dengan judul King. Kehadiran film dan novel adaptasi King merupakan bentuk perayaan terhadap edukasi dan peraihan impian anak negeri dalam dunia bulu tangkis. King memberi jeda reflektif dari khazanah bacaan keluarga dengan muatan inspiratif dan optimistik.
Kisah Guntur memiliki impresi pada anak-anak untuk sadar dan berani mengajukan mimpi. Mimpi untuk menjadi siapa saja adalah hak untuk bisa direalisasikan dengan doa dan ikhtiar. Guntur mengalami sekian hambatan dan godaan menjelang peraihan impian menjadi atlit bulu tangkis ampuh seperti Lim Swie King. Pola pendidikan dari bapak membuat Guntur merasa dalam ambiguitas untuk optimis meraih impian atau surut karena ejekan dan tuntutan keras dari bapak. Ambiguitas itu kerap muncul dalam pelbagai fragmen kehidupan Guntur ketika harus mengakui kekalahan dan merasakan kemenangan dalam pelbagai pertandingan bulu tangkis.
Nasib Guntur dikisahkan dengan apik, dramatis, dan mengesankan nilai-nilai kerja keras dan ketekunan. Nasib itu memiliki percampuran warna suram dan cerah. Guntur dari keluarga miskin dan yatim tanpa ibu merasa kekurangan dalam ketersediaan fasilitas atau kebutuhan hidup. Kemiskinan kadang melahirkan pesimisme untuk menjadi atlit karena harus mengalami ketegangan tak henti secara psikologis dan sosiologis. Warna suram itu terus dihadapi agar bisa dirubah menjadi cerah dengan niat besar untuk berhasil sebagai atlit meski dilakoni dengan duka dan luka. Proses membuat hidup menjadi cerah tak lepas dari peran Raden. Bocah ini militan dan percaya bahwa Guntur sanggup menjadi pemain bulu tangkis seperti King.
Proses panjang dan melelahkan membuahkan ganjaran besar. Guntur lolos sebagai penerima bea siswa untuk menempuh pendidikan bulu tangkis secara profesional di Kudus. Pencapaian itu dikisahkan dengan kalem dan mengandung impresi-impresi optimistik. Inilah pengakuan dramatis sebagai bab penting dalam novel Kingi: “ Namaku Guntur. Usiaku 12 tahun. Aku berasal dari sebuah kampung di kaki gunung Ijen. Sebuah desa bernama Sampit, kecamatan Sempol di perbatasan kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi. Aku adalah seorang anak kampung yang memiliki impian tinggi.”
Apa impian bocah kampung itu? Guntur memberi jawab: “Hari ini aku membuktikan bahwa setiap anak boleh bermimpi. Setiap anak boleh memiliki harapan. Karena setiap mimpi dan harapan itu dapat diwujudkan, selama kita memiliki kemauan.” Jawaban inspiratif patut diwartakan pada anak-anak Indonesia agar tak suntuk dalam pesimisme dan kemanjaan terhadap keriuhan mimpi-mimpi manipulatif dunia. Anak-anak Indonesia memang rentan dengan godaan ideologi konsumsi mulai dari makanan sampai hiburan. Kemanjaan terhadap hidup kerap membuat anak abai dengan filosofi hidup
Kisah anak kampung dari keluarga miskin di Banyuwangi ini patut jadi contoh proses dan nilai membuat hidup menjadi indah dan memiliki makna. Kemiskinan dan ruang hidup jauh dari kota tak bisa jadi alasan mutlak anak menerima dalil hidup “apa adanya” tapi diartikan bahwa hidup patut dijalani dengan dalil “apa seharusnya.” Niat jadi modal untuk merubah nasib dengan kesadaran ada pengorbanan dan risiko. Realisasi impian membuat anak merasai bahwa hidup tak rampung hanya dengan konsumsi dan reproduksi. Hidup memiliki makna jika anak sadar dengan keharusan manusia untuk aktif, produktif, dan kontributif.
Babak-babak dramatis dalam pencapaian impian tampak dari keintiman dan konflik antara Guntur dengan bapak, Raden, Arya, Michelle, Raino, dan lain-lain. Guntur memiliki impian dengan percampuran sisi emosionalitas dan keterbukaan terhadap kritik atau saran dari orang lain. Sikap-sikap emosional kerap muncul sebagai cara merepresentasikan resistensi dari fakta kemiskinan dan keterbatasan diri. Resistensi itu menjelma spirit emansipatif ketika Guntur sadar bahwa kontribusi orang lain mesti dipahami sebagai bentuk pemberian motivasi dan penguatan optimisme.
Novel ini menjadi medium reflektif untuk melengkapi kekhusukan menonton film King. Laku membaca dan menonton memang memiliki perbedaan substantif dalam model resepsi, interpretasi, dan afirmasi. Anak-anak Indonesia mungkin secara mayoritas memilih menonton film ketimbang membaca buku. Peran orang tua dan keluarga bakal mendapati ujian ketika sanggup untukl mengajarkan anak bahwa membaca memberi ruang reflektif dalam permainan makna dan memberi anak kebebasan dalam resepsi. Pilihan untuk membaca novel King adalah bukti keinginan memberi hak anak belajar secara konstruktif dan produktif.
Kehadiran novel ini patut diapresiasi karena menjadi paket utuh dengan masa pemutaran film. Pembaca pun bisa melakukan tafsir komprasi antara kisah dalam novel dan garapan dalam film. Model perbandingan tentu bakal memberi kesadaran kritis dalam apresiasi. Keluarga sebagai intitusi dasar dan fondasi dari keberlangsungan kehidupan sosial mesti memberi perhatian besar untuk meresepsi novel ini sebagai proyek menyemaikan optimisme pada anak-anak negeri. Mengajarkan tradisi membaca dan merealisasikan impian hidup adalah pesan substantif dari novel King. Anak-anak Indonesia mesti mendapati akses dan restu untuk memberi arti pada hidup mulai dari institusi keluarga, kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Impian bocah menjadi cermin peradaban bangsa dalam proses perubahan tiada henti. Begitu.


Dimuat di Surabaya Post (19 Juli 2oo9)

Tidak ada komentar: