Jumat, 07 Agustus 2009

Folklor Jadi Jalan Hidup

Heri Priyatmoko


Masyarakat di lereng Gunung Lawu, khususnya di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, dilihat dari demografis memiliki kekhasannya sendiri. Dari hasil observasi lapangan, penghuni Desa Nglurah bagian utara didominasi laki-laki jika dibandingkan dengan wanitanya. Demikian pula sifat wanitanya terkesan pemberani dan keras bak pria. Sebaliknya, di bagian selatan jumlah wanitanya lebih banyak daripada laki-laki, dan mempunyai sifat lemah lembut, sabar, tenang bagai wanita pada umumnya. Kendati demikian, mereka tetap menyatu dalam ritual yang disebutnya dengan dukutan dan sudah dilakukan secara turun-temurun.
Istilah dukutan itu sendiri berasal dari kata dukut yang berarti greget (semangat). Semangat kebersamaan di balik perbedaan karakter justru diyakini akan membawa kemakmuran warganya. Masyarakat di sana percaya bahwa desanya dilindungi dua kekuatan sakti yang berkonflik, yakni Kyai Menggung (Watu Gunung) dan Nyi Roso Putih (Dewi Sinta). Dua kekuatan itu pada akhirnya bersatu dalam ritual dukutan.
Sarana yang digunakan dalam pelaksanaan upacara dukutan, antara lain gedang setangkep, makanan jagung yang dibentuk (gandik), nasi jagung dalam bentuk tawonan gulo, iket bangun tulak, dan polo kependem. Sarana itu secara histori sebagi perlambang dari kehidupan harmoni yang dilakoni dua tokoh yang terus dipelihara dalam dongeng masyarakat Nglurah. Dan upaya merukunkan dua leluhur tersebut tersimbol pada puncak acara, yakni tawuran. Dalam prosesi ini, tiap-tiap warga yang berasal dari Desa Nglurah bagian selatan dan utara bertemu, dan saling melempar (tawur) perlengkapan yang mereka bawa. Setelah itu, ‘konflik’ Kyai Menggung dan Nyi Roso Putih dianggap selesai.
Dalam kebersamaan tersebut, Kyai Menggung dan Nyi Roso Putih meninggalkan pesan atau lebih tepatnya pantangan. Dalam pesan itu diungkapkan kemakmuran dan ketenteraman warga Desa Nglurah hanya bisa tercapai jika tidak membuka lahan untuk bercocok tanam padi. Sebaliknya, bila dilanggar warga bakal terkena kutukan atau musibah. Mereka dianjurkan menanam bunga dan jagung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam pemahaman warga Desa Nglurah, apabila dongeng ini dibedah, ditemukanlah sebuah kearifan lokal dalam mengelola alam beserta hasilnya untuk memenuhi hidup mereka. Secara geografis Desa Nglurah terapit oleh tiga anak gunung yang menyebabkan curah hujan relatif tinggi. Kalau ditanami padi akan rawan terjadi longsor. Juga seandainya ditanami sayuran, seperti di desa sekitarnya, mudah membusuk karena terlalu lembab. Maka, tidaklah heran bila di Desa Nglurah mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani bunga.
Dengan menanam bunga, lingkungan terjaga karena mengingat Desa Nglurah yang termasuk dalam lingkup kawasan Tawangmangu merupakan kawasan yang berpotensi terkena bencana longsor. Wejangan dua sesepuh tersebut pun pada akhirnya dijadikan pegangan hidup warga di sana. Secara ekonomis warga Desa Nglurah menuai sukses dengan berprofesi sebagai petani bunga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anaknya, semua tercukupi dari hasil penjualan bunga atau tanaman hias seperti cemara, anggrek, supir, dahlia, anturium, dan sebagainya.
Jadi, dongeng Kyai Menggung dan Nyi Roso Putih bukan sekadar pengantar tidur. Cara penyampaiannya yang memang sederhana lewat ritual dukutan ternyata mudah dicerna dan bisa dilaksanakan masyarakat. Alhasil, penduduk Desa Nglurah bisa menerjemahkan dongeng ini sarat nilai pendidikan, pesan moral, dan norma yang musti dipatuhi secara kolektif. Yang menarik, makna rukun antara Kyai Menggung dan Nyi Roso Putih disimbolkan pada kebersamaan warga dalam menciptakan desa yang tata tentrem kerta raharja. Lewat dukutan itu pula warga tidak akan mudah lupa dengan pesan-pesan mulia leluhur.
Pasalnya, saban Selasa Kliwon pada wuku dukut mereka berdialog dengan leluhur lewat upacara dukutan. Seperti media untuk mengingatkan kembali bahwa masyarakat harus berusaha dan bersemangat dalam menghadapi hidup. Dengan begitu keharmonisan alam dan manusia terpelihara. Ironis memang kalau ada sebagian masyarakat yang menganggap pelaksanaan ritual budaya dan percaya terhadap folklor sebagai bentuk kebodohan dan ketinggalan zaman.

Media Indonesia 04 Juli 2009

Tidak ada komentar: