Sastra Postkolonial
Bale Sastra Kecapi dan Balai Soedjatmoko Solo
Tema sastra postkolonial ini diajukan sebagai pembacaan terhadap biografi (sastra) Indonesia. Jejak panjang kolonialisme di Indonesia telah memberi tebaran gagasan dan praktik dalam pelbagai sisi kehidupan. Dalil dan pamrih untuk menjadi Indonesia mengandung benih dan persemaian wacana postkolonialisme. Wacana ini tampak sebagai eksplisitas dan implisitas dalam ranah sastra sebagai juru bicara proses transformasi sosial dan kultural di Indonesia.
Relasi sastra, ideologi, bahasa, kekuasaan, dan identitas tentu jadi lambaran menantang untuk memerkarakan sastra poskolonial di Indonesia dengan tebaran teori dan tafsiran mutakhir. Rintisan untuk menggulirkan kembali sastra postkolonial ini memiliki pamrih untuk tak melupakan biografi (sastra) Indonesia sebagai kasus kompleks dalam keriuhan wacana dan produksi teks sastra yang membutuhkan sapaan dan godaan. Gugatan atau revisi terhadap model-model pembakuan atau kanonisasi sastra di Indonesia pun jadi pertaruhan untuk menemukan aib atau utopia yang belum usai. Sastra poskolinal tentu masih penting untuk diperkarakan.
Hari/Tgl. : Minggu, 7 Juni 2009
Jam : 10.00 WIB
Tempat : Balai Soedjatmoko, TB Gramedia, Jl. Slamet Riyadi No 284 Solo
Pembicara : Muhammad Al-Fayydl, Peminat Filsafat dan Sastra, Jogjakarta
Saifur Rohman, Dosen Filsafat USM dan Kritikus Sastra, Semarang
Moderator : Bandung Mawardi (Bale Sastra Kecapi)
Silakan merayakan tema Sastra Poskolonial dengan mendengarkan atau urun rembug. Acara ini gratis dan ada hadiah buku untuk siapa saja sesuai kontribusi dalam Ngudarasa Sastra. Begitu.
Koordinator:
Kabut (08564712744)
Minggu, 31 Mei 2009
Memerkarakan Kelezatan Cerpen
(Resensi Buku 2o Cerpen Indonesia Terbaik 2oo9)
Bandung Mawardi
Cerpen masih jadi menu lezat untuk pembaca? Kriteria lezat tentu mengandung pengertian resepsi dan interpretasi. Cerpen jadi pertaruhan untuk memanjakan atau melenakan selera dalam tegangan cerpenis, redaktur, dan pembaca. Cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda. Suguhan cerpen-cerpen itu menjadi tanda koma yang mengabarkan bahwa negeri ini memiliki daftar panjang homo fabulans (manusia pencerita). Homo fabulans itu mengajukan cerpen sebagai menu ampuh untuk mengabarkan lakon manusia.
Cerpen adalah juru bicara. Dalil ini mungkin patut diajukan untuk meresepsi kehadiran buku 2o Cerpen Indonesia Terbaik 2oo9 yang disuguhkan oleh program Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen jadi godaan yang minta perhatian. Godaan itu jadi tanda tanya dan tanda seru dalam ranah kehadiran cerpen-cerpen Indonesia yang membutuhkan hormat dan nilai. Godaan bisa memuncak dan melemah tergantung pada relasi dan transaksi dalam pergulatan estetika dengan media, tingkah pembaca, iklim politik, arus sosial, atau musim kultural.
Prolog dari Triyanto Triwikromo mengesankan bahwa kehadiran 20 cerpen sebagai pilihan menu lezat cerpen Indonesia berada dalam kepungan tanya dan kerepotan menemukan jawaban. Konklusi pun lekas diwartakan bahwa kesusastraan Indonesia masih nelangsa. Cerpen terus diproduksi dengan gegap-gempita dan melimpah tanpa menebar sihir impresif untuk manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca cerpen-cerpen yang kerap dianggap elitis. Prolog ini jadi pengesahan untuk memerkarakan cerpen sebagai realisasi laku kreatif yang hidup dalam ancaman malaikat-malaikat maut. Cerpen: hidup atau mati?
Fenomena kritis atas nasib cerpen sejak lama jadi polemik dan keluhan. Jawaban-jawaban eksplisit justru diajukan dengan keriuhan pemuatan cerpen di koran dan penerbitan antologi cerpen. Publikasi cerpen jadi jawaban atas ragu atau curiga meski tak menghapus dilema. Radhar Panca Dahana (2005) mengingatkan kehadiran dan signifikansi cerpen sebagai penghuni genre prosa: “Untuk apa lagi prosa diproduksi? Ketika dunia sesungguhnya telah menjelma menjadi prosa. Ketika logika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu prosaik .... Headline surat kabar, gosip-gosip tabloid, bincang di radio, cover majalah, diskusi cafe, keceriwisan warung kopi, wabah infotaiment, hingga soap opera di milis atau komunitas, SMS, telah dengan rajinnya (dalam hitungan detik) mempersembahkan kisah-kisah nyata yang tak sekadar luar biasa, tapi juga tak terbayangkan (unimaginable).” Cerpen memang terus ada dengan tegangan-tegangan untuk gairah atau gerah.
Kehadiran buku ini jadi jawaban lanjutan atas nasib cerpen. Pilihan atas cerpen yang dianggit oleh Agus Noor, A.S. Laksana, Ayu Utami, Azhari, Danarto, Eka Kurniawan, F. Dewi Ria Utari, Gunawan Maryanto, Intan Paramadhita, Lan Fang, Linda Christanty, M. Iksana Banu, Naomi Srikandi, Nukila Amal, Putu Wijaya, Ratih Kumala, Stefany Irawan, Triyanto Triwikromo, Zaim Rofiqi, dan Zelfeni Wimra jadi representasi optimisme cerpen mutakhir untuk tak terus nelangsa. Perkara substantif adalah cerpen dengan olahan, sajian, dan rasa pada pembaca. Cerpen-cerpen itu pun ingin menyapa pembaca sebagai konsekuensi dari kerja sastra dan kultural.
Cerpen Zaim Rofiqi yang berjudul “Kamar Bunuh Diri” patut jadi perhatian pembaca untuk memerkarakan nasib cerpen Indonesia mutakhir. Alinea pertama: Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek? Alinea ini bisa dipakai untuk menguji kelezatan cerpen-cerpen terbaik yang disuguhkan pada pembaca. Kelezatan 20 cerpen dalam buku ini kerap memberi impresi dengan gerak dan jalan beda. Konklusi: Kau jangan mengira buku antologi cerpen ini ada dalam kamar kecil tapi kau memiliki hak untuk menerima atau menolak sumpek, mampet, dan mandek.
Ini cecapan kecil atas kelezatan sekian cerpen. Cerpen “Kartu Pos dari Surga” anggitan Agus Noor memberi haru yang ungu atas kisah bocah perempuan untuk menanyakan ibu. Cerpen “Sonata” dari Lan Fang beri godaan puitik untuk menikmati naif dan romantisme. Cerpen “Lembah Kematian Ibu” dari Triyanto Triwikromo menyuguhkan pedih perempuan yang sepi liris dan rindu dendam. Cerpen “Usaha Menjadi Sakti” dari Gunawan Maryanto memberi kesan biografi manusia untuk mengalami sebagai manusia. Cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” dari A.S. Laksana mengingatkan resah cinta, dendam, luka, dan kematian yang dramatis.
Kelezatan cerpen-cerpen itu beda dengan tendesi aktualitas dari sekian cerpen sebagai bukti keintiman cerpen (fiksi) yang hadir di koran yang mengusung berita (fakta). Cerpen “Terbang” anggitan Ayu Utami jadi tanda seru untuk musibah-musibah kecelakaan dan refleksi atas nyawa. Cerpen “Suap” dari Putu Wijaya jadi satire yang menggelikan dan memuakkan atas lakon korupsi. Cerpen “Perbatasan” anggitan F. Dewi Ria Utari jadi panggung tanya untuk pornografi dan pornoaksi. Cerpen-cerpen ini jadi refleksi meski dalam cecapan kelezatan kadang lekas kehilangan impresi atas bahasa dan kisah.
Penilaian Wicaksono Adi mengenai cerpen-cerpen dalam buku ini sangat fasih menciptakan bentuk yang sesuai dengan isi cerita mungkin patut diamini. Kefasihan itu sebagai faktor dari kerja homo fabulans untuk menciptakan komunikasi dan interaksi. Kefasihan itu ada tapi terkadang melenakan karena kurang mengurusi kelezatan untuk pengekalan reflektif lalu cenderung menjadi catatan kecil atas berita. Barangkali curiga ini yang hendak diterangkan oleh Wicaksono Adi dalam istilah “bobot kehadiran” (cerpen tidak melulu bertumpu pada “cerita” tetapi dapat meluas menuju hal-hal lain yang mengitari peristiwa atau segala ihwal yang berada di balik “cerita”). Begitukah?
Dimuat di Jawa Pos (24 Mei 2oo9)
Bandung Mawardi
Cerpen masih jadi menu lezat untuk pembaca? Kriteria lezat tentu mengandung pengertian resepsi dan interpretasi. Cerpen jadi pertaruhan untuk memanjakan atau melenakan selera dalam tegangan cerpenis, redaktur, dan pembaca. Cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda. Suguhan cerpen-cerpen itu menjadi tanda koma yang mengabarkan bahwa negeri ini memiliki daftar panjang homo fabulans (manusia pencerita). Homo fabulans itu mengajukan cerpen sebagai menu ampuh untuk mengabarkan lakon manusia.
Cerpen adalah juru bicara. Dalil ini mungkin patut diajukan untuk meresepsi kehadiran buku 2o Cerpen Indonesia Terbaik 2oo9 yang disuguhkan oleh program Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen jadi godaan yang minta perhatian. Godaan itu jadi tanda tanya dan tanda seru dalam ranah kehadiran cerpen-cerpen Indonesia yang membutuhkan hormat dan nilai. Godaan bisa memuncak dan melemah tergantung pada relasi dan transaksi dalam pergulatan estetika dengan media, tingkah pembaca, iklim politik, arus sosial, atau musim kultural.
Prolog dari Triyanto Triwikromo mengesankan bahwa kehadiran 20 cerpen sebagai pilihan menu lezat cerpen Indonesia berada dalam kepungan tanya dan kerepotan menemukan jawaban. Konklusi pun lekas diwartakan bahwa kesusastraan Indonesia masih nelangsa. Cerpen terus diproduksi dengan gegap-gempita dan melimpah tanpa menebar sihir impresif untuk manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca cerpen-cerpen yang kerap dianggap elitis. Prolog ini jadi pengesahan untuk memerkarakan cerpen sebagai realisasi laku kreatif yang hidup dalam ancaman malaikat-malaikat maut. Cerpen: hidup atau mati?
Fenomena kritis atas nasib cerpen sejak lama jadi polemik dan keluhan. Jawaban-jawaban eksplisit justru diajukan dengan keriuhan pemuatan cerpen di koran dan penerbitan antologi cerpen. Publikasi cerpen jadi jawaban atas ragu atau curiga meski tak menghapus dilema. Radhar Panca Dahana (2005) mengingatkan kehadiran dan signifikansi cerpen sebagai penghuni genre prosa: “Untuk apa lagi prosa diproduksi? Ketika dunia sesungguhnya telah menjelma menjadi prosa. Ketika logika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu prosaik .... Headline surat kabar, gosip-gosip tabloid, bincang di radio, cover majalah, diskusi cafe, keceriwisan warung kopi, wabah infotaiment, hingga soap opera di milis atau komunitas, SMS, telah dengan rajinnya (dalam hitungan detik) mempersembahkan kisah-kisah nyata yang tak sekadar luar biasa, tapi juga tak terbayangkan (unimaginable).” Cerpen memang terus ada dengan tegangan-tegangan untuk gairah atau gerah.
Kehadiran buku ini jadi jawaban lanjutan atas nasib cerpen. Pilihan atas cerpen yang dianggit oleh Agus Noor, A.S. Laksana, Ayu Utami, Azhari, Danarto, Eka Kurniawan, F. Dewi Ria Utari, Gunawan Maryanto, Intan Paramadhita, Lan Fang, Linda Christanty, M. Iksana Banu, Naomi Srikandi, Nukila Amal, Putu Wijaya, Ratih Kumala, Stefany Irawan, Triyanto Triwikromo, Zaim Rofiqi, dan Zelfeni Wimra jadi representasi optimisme cerpen mutakhir untuk tak terus nelangsa. Perkara substantif adalah cerpen dengan olahan, sajian, dan rasa pada pembaca. Cerpen-cerpen itu pun ingin menyapa pembaca sebagai konsekuensi dari kerja sastra dan kultural.
Cerpen Zaim Rofiqi yang berjudul “Kamar Bunuh Diri” patut jadi perhatian pembaca untuk memerkarakan nasib cerpen Indonesia mutakhir. Alinea pertama: Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek? Alinea ini bisa dipakai untuk menguji kelezatan cerpen-cerpen terbaik yang disuguhkan pada pembaca. Kelezatan 20 cerpen dalam buku ini kerap memberi impresi dengan gerak dan jalan beda. Konklusi: Kau jangan mengira buku antologi cerpen ini ada dalam kamar kecil tapi kau memiliki hak untuk menerima atau menolak sumpek, mampet, dan mandek.
Ini cecapan kecil atas kelezatan sekian cerpen. Cerpen “Kartu Pos dari Surga” anggitan Agus Noor memberi haru yang ungu atas kisah bocah perempuan untuk menanyakan ibu. Cerpen “Sonata” dari Lan Fang beri godaan puitik untuk menikmati naif dan romantisme. Cerpen “Lembah Kematian Ibu” dari Triyanto Triwikromo menyuguhkan pedih perempuan yang sepi liris dan rindu dendam. Cerpen “Usaha Menjadi Sakti” dari Gunawan Maryanto memberi kesan biografi manusia untuk mengalami sebagai manusia. Cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” dari A.S. Laksana mengingatkan resah cinta, dendam, luka, dan kematian yang dramatis.
Kelezatan cerpen-cerpen itu beda dengan tendesi aktualitas dari sekian cerpen sebagai bukti keintiman cerpen (fiksi) yang hadir di koran yang mengusung berita (fakta). Cerpen “Terbang” anggitan Ayu Utami jadi tanda seru untuk musibah-musibah kecelakaan dan refleksi atas nyawa. Cerpen “Suap” dari Putu Wijaya jadi satire yang menggelikan dan memuakkan atas lakon korupsi. Cerpen “Perbatasan” anggitan F. Dewi Ria Utari jadi panggung tanya untuk pornografi dan pornoaksi. Cerpen-cerpen ini jadi refleksi meski dalam cecapan kelezatan kadang lekas kehilangan impresi atas bahasa dan kisah.
Penilaian Wicaksono Adi mengenai cerpen-cerpen dalam buku ini sangat fasih menciptakan bentuk yang sesuai dengan isi cerita mungkin patut diamini. Kefasihan itu sebagai faktor dari kerja homo fabulans untuk menciptakan komunikasi dan interaksi. Kefasihan itu ada tapi terkadang melenakan karena kurang mengurusi kelezatan untuk pengekalan reflektif lalu cenderung menjadi catatan kecil atas berita. Barangkali curiga ini yang hendak diterangkan oleh Wicaksono Adi dalam istilah “bobot kehadiran” (cerpen tidak melulu bertumpu pada “cerita” tetapi dapat meluas menuju hal-hal lain yang mengitari peristiwa atau segala ihwal yang berada di balik “cerita”). Begitukah?
Dimuat di Jawa Pos (24 Mei 2oo9)
Umar Kayam: Pokok dan Tokoh
Bandung Mawardi
Umar Kayam (1932 - 2002) adalah pokok dan tokoh dalam sastra, seni, kebudayaan, dan ilmu sosial. Nama ini menjadi bab penting dalam biografi kebudayaan Indonesia. Tokoh ini memang moncer untuk pelbagai hal dan memberi “sihir wacana” untuk publik. Orang berhak membaca dan menilai Umar Kayam karena cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, novelet Sri Sumarah dan Bawuk, novel Para Priyayi, dan novel Jalan Menikung. Orang berhak mengenali secara intim sosok Umar Kayam dalam kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit.
Apa warisan dari Umar Kayam? Pertanyaan ini sengaja diajukan untuk menilik kembali kontribusi Umar Kayam dalam wacana sastra, seni, kebudayaan, dan ilmu sosial. Umar Kayam mencatatkan diri sebagai tokoh kunci dalam pergulatan wacana-wacana besar dengan orientasi memberi kontribusi untuk biografi menjadi Indonesia. Warisan-warisan itu gampang terlacak dan mengadung kontekstualisasi dalam arus zaman.
Umar Kayam dalam jagad sastra Indonesia modern merupakan pokok dan tokoh yang fenomenal. Sekian teks sastra menjadi juru bicara keampuhan Umar Kayam untuk mengisahakn hidup dengan penguatan narasi suasana dan pergulatan ide dalam tegangan fakta dan fiksi. Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan sampai hari ini masih jadi tonggak cerpen Indonesia karena model penceritaan yang mengena pada suasana dan karakterisasi tokoh yang kuat. B. Rahmanto dalam Umar Kayam: Karya dan Dunianya (2004) menyebut cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan merupakan cerpen awal Indonesia yang menggelinding sebagai cerpen suasana. Cerpen itu memberi tanda seru dalam kesusastraan Indonesia modern bahwa narasi suasana merupakan kunci kehidupan sebuah cerita.
Novel Para Priyayi merupakan novel kontroversial. Para pengamat dan pembaca melemparkan penilaian yang riuh: novel outobiografis, novel sejarah, Para Priyayi itu risalah sosiologis, novel itu percampuran atau sintesis fakta (ilmu-ilmu sosial) dan fiksi, atau novel itu traktat pandangan kepriyayian modern. Umar Kayam mengakui bahwa penulisan novel Para Priyayi mengacu pada alasan bahwa ilmu-ilmu sosial tidak mampu lagi menjelaskan banyak hal. Kuntowijoyo (1998) menilai novel Para Priyayi merupakan novel sejarah dengan narasi perubahan dari waktu ke waktu tentang sebuah keluarga, peristiwa, dan mobilitas sosial. Novel ini mereprentasikan jejak-jejak kepriyayian dalam kebudayaan Jawa.
Warisan lain yang memberi kontribusi penting adalah tulisan-tulisan kolom Umar Kayam di Kedaulatan Rakyat yang lalu terbit sebagai buku dalam empat jilid. Tulisan-tulisan itu sebagai catatan kritis untuk memerkarakan transformasi sosial dan kebudayaan dalam tegangan tradisionalitas dan modernitas. Umar Kayam lihai untuk menuturkan wejangan dan kritik sosial-kebudayan melalui tokoh-tokoh yang lekas akrab pada pembaca.
Goenawan Mohamad (1990) menilai tulisan-tulisan Umar Kayam itu enak dinikmati karena secara spontan dan konsisten memberi kerifan untuk memandang hidup. Materi tema dalam kolom Umar Kayam itu sebagai metafora untuk koeksitensi pelbagai hal yang berbeda-beda tapi masing-maing dapat dikonsumsi dan menjadi bagian dari pernyataan diri zaman ini.
Sapardi Djoko Damono (1994) dengan lugas menilai kolom Umar Kayam itu sebagai glenyengan. Glenyengan adalah cara dalam mengungkapkan nasihat, sindiran, protes, atau usul. Umar Kayam sebagai tukang cerita mahfum dalam model glenyengan itu tanpa harus membuat pihak-pihak tertentu sakit atau disudutkan tanpa ampun. Umar kayam sadar bahwa khasanah Jawa telah menyediakan taktik dalam melempar kritik dan mengajukan usul untuk lkebaikan bersama.
Umar Kayam pun mewariskan buku Seni, Tradisi, dan Masyarakat dan Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya. Umar Kayam getol mengurusi seni tradisi. Hal itu jadi dalil ketika Umar Kayam memberi peringatan: seni sebagai tradisi adalah masalah rakyat. Buku Seni, Tradisi, dan Masyarakat membuktikan ketelatenan Umar Kayam memunculkan optimisme dan pembuatan taktik kultural untuk kehidupan seni tradisional dan seni modern. Umar Kayam pun dengan lincah mendedahkan persoalan-persoalan dan pengajuan solusi dalam teater tradisional, teater modern, film, wayang, novel pop, dan hubungan pariwisata dan kebudayaan.
Buku Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya merupakan tanda dan metafor dari perhatian Umar Kayam terhadap kehidupan kebudayaan etnis di Indonesia. Perjalanan itu mengandung pengertian pengamatan terhadap proses tranformasi kultural yang menimpa sekian kebudayaan etnis dalam kutukan dan berkah atau pesimisme dan optimisme untuk eksis dan tumbuh. Umar Kayam juga mengingatkan bahwa perjalanan itu mengartikan proses penerjemhan kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak dari kebudayaan etnis. Pengertian ini dipahami secara kritis sebab memiliki kemungkinan menjadi hegemonik dengan pertaruhan kebudayaan etnis mungkin lekas musnah atau mengalami reduksi secara substantif.
Umar Kayam itu pokok dan tokoh. Warisan-warisan Umar Kayam memang melimpah untuk jadi bahan refleksi membaca tanda-tanda zaman. Buku-buku Umar Kayam tidak sekadar warisan benda mati tapi referensi untuk mencari jejak dan menentukan proses transformasi sosial dan kultural di Indonesia. Warisan-warisan itu membutuhkan interpretasi dan realisasi. Begitu.
Dimuat di Kedaulatan Rakyat (24 Mei 2oo9)
Umar Kayam (1932 - 2002) adalah pokok dan tokoh dalam sastra, seni, kebudayaan, dan ilmu sosial. Nama ini menjadi bab penting dalam biografi kebudayaan Indonesia. Tokoh ini memang moncer untuk pelbagai hal dan memberi “sihir wacana” untuk publik. Orang berhak membaca dan menilai Umar Kayam karena cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, novelet Sri Sumarah dan Bawuk, novel Para Priyayi, dan novel Jalan Menikung. Orang berhak mengenali secara intim sosok Umar Kayam dalam kumpulan kolom Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih, dan Satrio Piningit ing Kampung Pingit.
Apa warisan dari Umar Kayam? Pertanyaan ini sengaja diajukan untuk menilik kembali kontribusi Umar Kayam dalam wacana sastra, seni, kebudayaan, dan ilmu sosial. Umar Kayam mencatatkan diri sebagai tokoh kunci dalam pergulatan wacana-wacana besar dengan orientasi memberi kontribusi untuk biografi menjadi Indonesia. Warisan-warisan itu gampang terlacak dan mengadung kontekstualisasi dalam arus zaman.
Umar Kayam dalam jagad sastra Indonesia modern merupakan pokok dan tokoh yang fenomenal. Sekian teks sastra menjadi juru bicara keampuhan Umar Kayam untuk mengisahakn hidup dengan penguatan narasi suasana dan pergulatan ide dalam tegangan fakta dan fiksi. Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan sampai hari ini masih jadi tonggak cerpen Indonesia karena model penceritaan yang mengena pada suasana dan karakterisasi tokoh yang kuat. B. Rahmanto dalam Umar Kayam: Karya dan Dunianya (2004) menyebut cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan merupakan cerpen awal Indonesia yang menggelinding sebagai cerpen suasana. Cerpen itu memberi tanda seru dalam kesusastraan Indonesia modern bahwa narasi suasana merupakan kunci kehidupan sebuah cerita.
Novel Para Priyayi merupakan novel kontroversial. Para pengamat dan pembaca melemparkan penilaian yang riuh: novel outobiografis, novel sejarah, Para Priyayi itu risalah sosiologis, novel itu percampuran atau sintesis fakta (ilmu-ilmu sosial) dan fiksi, atau novel itu traktat pandangan kepriyayian modern. Umar Kayam mengakui bahwa penulisan novel Para Priyayi mengacu pada alasan bahwa ilmu-ilmu sosial tidak mampu lagi menjelaskan banyak hal. Kuntowijoyo (1998) menilai novel Para Priyayi merupakan novel sejarah dengan narasi perubahan dari waktu ke waktu tentang sebuah keluarga, peristiwa, dan mobilitas sosial. Novel ini mereprentasikan jejak-jejak kepriyayian dalam kebudayaan Jawa.
Warisan lain yang memberi kontribusi penting adalah tulisan-tulisan kolom Umar Kayam di Kedaulatan Rakyat yang lalu terbit sebagai buku dalam empat jilid. Tulisan-tulisan itu sebagai catatan kritis untuk memerkarakan transformasi sosial dan kebudayaan dalam tegangan tradisionalitas dan modernitas. Umar Kayam lihai untuk menuturkan wejangan dan kritik sosial-kebudayan melalui tokoh-tokoh yang lekas akrab pada pembaca.
Goenawan Mohamad (1990) menilai tulisan-tulisan Umar Kayam itu enak dinikmati karena secara spontan dan konsisten memberi kerifan untuk memandang hidup. Materi tema dalam kolom Umar Kayam itu sebagai metafora untuk koeksitensi pelbagai hal yang berbeda-beda tapi masing-maing dapat dikonsumsi dan menjadi bagian dari pernyataan diri zaman ini.
Sapardi Djoko Damono (1994) dengan lugas menilai kolom Umar Kayam itu sebagai glenyengan. Glenyengan adalah cara dalam mengungkapkan nasihat, sindiran, protes, atau usul. Umar Kayam sebagai tukang cerita mahfum dalam model glenyengan itu tanpa harus membuat pihak-pihak tertentu sakit atau disudutkan tanpa ampun. Umar kayam sadar bahwa khasanah Jawa telah menyediakan taktik dalam melempar kritik dan mengajukan usul untuk lkebaikan bersama.
Umar Kayam pun mewariskan buku Seni, Tradisi, dan Masyarakat dan Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya. Umar Kayam getol mengurusi seni tradisi. Hal itu jadi dalil ketika Umar Kayam memberi peringatan: seni sebagai tradisi adalah masalah rakyat. Buku Seni, Tradisi, dan Masyarakat membuktikan ketelatenan Umar Kayam memunculkan optimisme dan pembuatan taktik kultural untuk kehidupan seni tradisional dan seni modern. Umar Kayam pun dengan lincah mendedahkan persoalan-persoalan dan pengajuan solusi dalam teater tradisional, teater modern, film, wayang, novel pop, dan hubungan pariwisata dan kebudayaan.
Buku Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya merupakan tanda dan metafor dari perhatian Umar Kayam terhadap kehidupan kebudayaan etnis di Indonesia. Perjalanan itu mengandung pengertian pengamatan terhadap proses tranformasi kultural yang menimpa sekian kebudayaan etnis dalam kutukan dan berkah atau pesimisme dan optimisme untuk eksis dan tumbuh. Umar Kayam juga mengingatkan bahwa perjalanan itu mengartikan proses penerjemhan kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak dari kebudayaan etnis. Pengertian ini dipahami secara kritis sebab memiliki kemungkinan menjadi hegemonik dengan pertaruhan kebudayaan etnis mungkin lekas musnah atau mengalami reduksi secara substantif.
Umar Kayam itu pokok dan tokoh. Warisan-warisan Umar Kayam memang melimpah untuk jadi bahan refleksi membaca tanda-tanda zaman. Buku-buku Umar Kayam tidak sekadar warisan benda mati tapi referensi untuk mencari jejak dan menentukan proses transformasi sosial dan kultural di Indonesia. Warisan-warisan itu membutuhkan interpretasi dan realisasi. Begitu.
Dimuat di Kedaulatan Rakyat (24 Mei 2oo9)
Langganan:
Postingan (Atom)