Kamis, 14 Mei 2009

Imaji Kota dengan Kereta Api Tua

Bandung Mawardi

Joko Widodo sebagai lokomotif pemerintahan Kota Solo ingin memberi kejutan dengan realisasi wisata kereta api di Jalan Slamet Riyadi. Kejutan ini bukan mimpi tapi ikhtiar untuk membuat Solo semakin memiliki derajat sebagai kota yang bergerak. Kereta api adalah simbol dan fakta untuk laju gerak ekonomi, pariwisata, dan kultural. Kejutan itu mungkin direlisasikan pada bulan Juli nanti.
Solo sampai hari ini adalah kota yang riuh dengan pertumbuhan imaji dari pelbagai program dari seni sampai investasi. Imaji-imaji kota muncul dalam kesanggupan mendadani Kota Solo dengan modal dan kerja keras. Joko Widodo sadar dengan ikhtiar untuk tak membuat Solo menjadi kota tidur tapi mesti mengalami gerakan progresif. Imaji Solo sebagai kota bergerak pun ingin dibuktikan dengan penguatan peran Jalan Slamet Riyadi melalui pengoperasian kereta api tua untuk wisata kota.
Kota Solo kelak bakal riuh dengan situasi jalan yang sibuk. Jalan Slamet Riyadi menjadi ruang bebas untuk mobil, sepeda, kendaraan motor, truk, bus, becak, dan kereta api. Titik-titik ekonomi bakal menjadi heboh dan sumpek ketika jalan ramai oleh sekian alat transportasi dan orang. Jalan Slamet Riyadi memang tampak sesak ketika jumlah pengguna semakin bertambah dan pusat-pusat perbelanjaan semakin bertambah. Jatah untuk jalur lalu lintas kendaraan semakin berkurang dengan keberadaan lahan parkir.
Kereta api untuk wisata kota itu direncanakan memiliki rute: Stasiun Purwosari, Loji Gandrung, Sriwedari, Kampung Batik Kauman, Keraton Solo, Galabo, dan Stasiun Sangkrah. Rute ini sengaja jadi alasan untuk memberi arti pada peran kereta api dan pamrih Pemkot Solo untuk meraup rejeki dan pencitraan kota. Kereta api yang bakal secara rutin melintasi Jalan Slamet Riyadi pada bulan Juli nanti itu tentu memberi penguatan bahwa Kota Solo masih ingin terus bergerak dan bersolek diri.
Joko Widodo dengan antusias mengungkapkan: “Bayangkan kalau lokomotif ini (CC 5029) keluar dari Stasiun Purwosari. Melaju di Jalan Slamet Riyadi dengan sebagian uap ngepul dari bawah. Malamnya dilewatkan di Galabo (Gladak Langen Bogan: pusat kuliner di Gladak Solo). Orang makan sambil asyik berfoto. Dahsyat itu” (Kompas, 22/4/2009). Imaji-imaji sudah mulai diajukan untuk kereta api tua yang eksotis dan memiliki jejak historis.
Program kereta api itu mengandung tawaran-tawaran eksplisit untuk membuat publik Solo atau kota lain merasa penasaran. Kereta api jadi bentuk promosi yang membuat publik memiliki rasa ingin dan ketagihan. Ungkapan dan imaji bahwa kelak “orang makan sambil asyik berfoto” merupakan godaan yang menggiurkan. Orang lalu memiliki hasrat untuk mendokumentasikan diri, kereta api, dan kota sebagai memori individu arau kolektif. Rasa asyik jadi klaim bahwa Kota Solo masuk dalam interpretasi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Imaji fotografis bisa memiliki peran untuk konstruksi kota yang inklusif dan estetis.
Dahsyat adalah kata yang ingin jadi bukti dan jadi pengalaman riil. Kereta api sejak awal sudah memberi janji dan imaji untuk Kota Solo. Dahsyat tentu susah dipahami dalam pengertian absolut untuk memberi nilai dari efek kereta api di Jalan Slamet Riyadi. Risiko yang mesti disadari adalah jalan bakal semakin ramai dan pengaturan jadwal mesti diperlukan untuk mengantisipasi tingkat kemacetan. Jalan Slamet Riyadi bisa dikatakan rentan dengan kemacetan karena titik-titik ekonomi dan kultural ada di sepanjang jalan penting itu.
Pengoperasian kereta api tua di Jalan Slamet Riyadi dalam pembayangan dan argumen Pemkot memang tidak mutlak berorientasi pada laba untuk pendapatan daerah. Pilihan rute jadi janji untuk ikut menggerakkan roda ekonomi dari pada pedagang, pengelola pusat seni-kultural, industri (kerajinan) batik, dan apresiasi terhadap situs sejarah. Pengalaman dan efek kultural mendapatkan porsi sebagai bentuk pencitraan Kota Solo yang memiliki identitas kultural dalam tegangan tradisional (Jawa) dan modern.
Pilihan kereta api sebagai alat transportasi wisata dalam kota tentu mengandung nilai efektif dan efisien. Publik yang memilih kereta api tentu ingin memiliki pengalaman unik ketimbang mengendarai mobil, kendaraan motor, bus, becak, atau berjalan kaki. Pengalaman unik mungkin bisa menimbulkan iri pada tukang becak, sopir taksi, atau sopir bus yang juga ingin mendapati penghasilan dari fasilitas transportasi yang ditawarkan. Pemkot mesti membuat antisipasi agar tak ada diskriminasi yang kentara ketika kereta api tua jadi melaju di Jalan Slamet Riyadi.
Ikhtiar untuk merealisasikan laju kereta api mesti dibarengi dengan kerja keras untuk membenahi jalan dari kemacetan dan kubangan air. Ada sekian titik di Jalan Slamet Riyadi yang menjadi genangan air ketika hujan. Genangan air itu membuat para pemakai jalan kerepotan untuk menghindari dan rawan dengan kecelakaan. Saluran air di sepanjang Jalan Slamet Riyadi butuh perhatian untuk membuat para pemakai jalan dan lintasan kereta api terhindar dari petaka. Perkara jalan dengan genangan air ini memang klise tapi sampai hari ini belum ada perubahan yang signifikan.
Joko Widodo sadar bahwa kerja belum selesai untuk mendadani dan membenahi Kota Solo. Gagasan untuk kereta api melaju di Slamet Riyadi mungkin jadi bukti lanjutan bahwa Kota Solo belum berhenti di titik akhir. Kota Solo terus bergerak meski harus meninggalkan sesuatu untuk mencapai sesuatu. Imaji kota pun mendapat porsi besar untuk membuat Kota Solo memiliki aura kultural. Imaji hendak diusung melalui kereta api. Kota bergerak dengan lokomotif dan gerbong-gerbong yang sesak penumpang. Imaji terus bersemi untuk kerja yang belum selesai di hari ini.

Dimuat di Suara Merdeka (6 Mei 2oo9)

Tidak ada komentar: