Selasa, 05 Agustus 2008

Belajar Kearifan Sejarah Kota Solo

Oleh: Heri Priyatmoko


Judul Buku : 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit

Penulis : Sholahuddin dkk

Penerbit : Harian Umum SOLOPOS

Edisi : Pertama, Mei 2008
Tebal
: viii + 104 halaman

Kepulan asap hitam menyelimuti ruang kota. Si jago merah melalap puluhan bangunan kokoh pusat perbelanjaan. Pemilik toko panik histeris. Mereka tak bisa menyelamatkan harta benda, justru yang “menyelamatkan” adalah penjarah. Bunyi sirine kendaraan militer meraung-raung menghalau perusuh. Suasana benar-benar mencekam. Sementara warga kampung berwajah tegang berjaga-jaga di mulut gang. Itulah panorama sekilas apa yang terjadi di Solo 10 tahun silam. Tepatnya, 14 Mei 1998.

Selanjutnya, insiden “Mei Kelabu” menggugah para akademisi keluar dari kandangnya. Hasil sorotan historis oleh sejarawan sohor Solo, Soedarmono bersama rekannya antara lain, “Runtuhnya Kekuasaan Kraton Alit” (1999), “Perilaku Radikal Di Kota Solo” (2004), dan “Sejarah dan Morfologi Kota Konflik Solo” (2004). Adalah sebuah kesimpulan mengemparkan masyarakat, kota ini lahir sebagai kota konflik! Benarkah?

Fakta sejarah dipampang dan diurai. Tarikan sejarah yang cukup berani, Soedarmono memaparkan fenomena konflik dari sejak jaman “geger pecinan” atau robohnya Keraton Kartasura hingga peristiwa “Mei Kelabu”. Tercatat puluhan kali konflik melanda Kota Bengawan. Proses sejarah kerusuhan yang senantiasa berulang, histoire se repete, kata sejarawan Prancis. Itu kiranya dasar argumentasi Soedarmono di setiap diskusi membedah fenomena “lokal genius” Solo. Warga membakar kotanya dan bersiklus limabelas tahunan, tandasnya. Tesis ini banyak membuat kaum intelek lain sewot, tanda tak setuju. Ada gerangan apakah dosen sejarah UNS ini (maaf) membubuhkan semacam cap bagi kota kelahirannya sendiri? Tampaknya publik mesti jembar dalam menikmati buah kupasan pisau sejarah beliau. Ada pesan teramat dalam bahwa kita sebagai masyarakat Solo harus menghargai dan belajar dari kearifan sejarah. Hanya itu saja mungkin Soedarmono mengingatkan publik Solo.

Datang di sini, tim Solopos yang dimotori Sholahuddin dengan bukunya yang menantang, “10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit”. Berarti ini buku yang kedua, karena Solopos telah melahirkan buku pendahulunya, “Rekaman Lensa Peristiwa Mei 1998 Di Solo”. Buku terbagi 8 bab. Sebagai prolog, MT Arifin menuliskan “Mencermati perjalanan perubahan nasional: Agenda reformasi yang gamang”. Tersaji dalam bab seputar sebab musabab kemunculan reformasi yang akhirnya menjadi peluru guna menjatuhkan Presiden Soeharto dari takhta selama 32 tahun. Kegelisahan MT Arifin terasa manakala ia mengatakan visi reformasi tereduksi. Pasca tergulingnya Soeharto justru timbul berbagai paradoks yang tidak sejalan apa yang diteriakkan mahasiswa, salah satunya KKN di legislatif.

Wajah keprihatinan anak kampus yang bermuara pada kemarahan atas sebuah orde otoriter tergambar dalam Bab II, “Geliat aksi mahasiswa”. Mahasiswa Solo tak mau ketinggalan memacu gerak reformasi di Bumi Pertiwi. Dies Natalis UNS ke-12 tidak dimeriahkan oleh seminar dan aneka lomba saja, tapi diwarnai bentrokan mahasiswa melawan aparat keamanan. Selain UNS, ratusan sampai ribuan mahasiswa bergabung dari Unisri, UTP, USB, STIES, STSI, STAIN dan universitas lainnya yang ada di Solo, turun jalan menggelar aksi demo. Betrokan terulang dan menelan banyak korban cidera hingga mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Moewardi.

Tak mengelak dan wajib termangut setuju, kerusuhan Mei melumpuhkan total titik perekonomian kota. Sirkulasi duit macet, akibat nihilnya transaksi jual-beli. Pekerja dirumahkan karena pabrik dan pertokoan belum beroperasi. Yang paling dirugikan ialah Matahari Departement Store (MDS). Tiga gerai MDS, masing-masing Perbelanjaan Beteng, Plasa Singasaren dan SE Purwosari, ludes dijarah dan dibakar massa. Lalu, bagaimana dengan kondisi ekonomi Solo bubar bakar-bakaran? Oleh Solopos, bab V dibahas bagaimana Solo bangkit dari keterpurukan. Jarak yang direntang Solopos yaitu perjalanan kurun waktu 10 tahun pasca kerusuhan. Denyut nadi kota kembali terasa. Contoh konkrit, apartemen mulai dibangun dan mal menjamur. Akuntan Publik Rachmad Wahyudi dan data laporan Bank Indonesia membenarkan. Salah satu indikatornya adalah laju pertumbuhan ekonomi yang positif sejak tahun 2000 hingga 2005. Dari hasil perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pun mengalami kenaikan. Investor ramai masuk Solo.

Diperbincangkan pula kondisi Solo kotemporer dan mendatang dalam bab VI. Bertaburan bangunan anyar di atas bangunan yang dulu terbakar. Namun, bangunan korban amuk massa ada yang mangkrak belum dibangun. Seperti, SE Purwosari yang dalam perencanaannya bakal digunakan untuk Solo Center Point (SCP) berupa apartemen 23 lantai plus pusat perbelanjaan.

Kini, walau peristiwa amuk massa 14-15 Mei 1998 berlalu sudah, tetapi trauma atas kejadian pahit itu masih dirasakan oleh masyarakat, terutama etnis China. “Sehabis Reformasi, saya trauma melihat bakar-bakaran. Saya lihat rumah di depan saya apinya bulat-bulat. Barang-barang yang ada dirumah saya juga dijarah. Tak berapa lama, saya pasang hidran di depan rumah sebagai antisipasi kalau ada bakar-bakaran lagi”, ujar Sumartono, warga keturunan etnis Tionghoa (hal 93). Memang bisa dipermaklum, manusia sangat berat berjuang untuk melupakan suatu insiden yang menyangkut keselamatan nyawanya.

Sebagai epilog judul bab yang diangkat sangat tepat, “Koreksi diri”. Bahan bab ini, litbang Solopos melakukan jajak pendapat dengan materi meliputi kondisi ekonomi dan politik Kota Solo serta harapan apakah reformasi masih menjanjikan harapan atau tidak. Di mata sebagian besar responden, tak banyak berharap reformasi menjanjikan.

Buku tersebut dokumentasi berharga atas tapak sejarah Solo menyambut kedatangan “tamu” reformasi yang tragik. Foto-foto di dalam buku selain menjembatani pembaca berwisata sejarah “solo membara”, namun juga sengaja dipasang Solopos sebagai wahana perenungan. Sekali lagi, cap negatif Solo kota konflik dan bersumbu pendek akan runtuh seandainya kita bersama mampu intropeksi. Buku ini benar-benar mengajak mengarifi sejarah. Manusia tanpa sejarah ibarat tentara tanpa senjata, dokter tanpa obat, petani tanpa benih, atau tukang tanpa alat. Sebuah buku yang berguna merapatkan manusia bersama sejarahnya sendiri, meski sejarah itu sirna ditelan waktu 10 tahun yang lampau.


1 komentar:

Priyono Espos mengatakan...

terima kasih atas reviewnya mas Kabut.
sekalian informasi, kami sudah keluarkan versi ebooknya untuk buku Rekaman Lensa Peristiwa Mei 1998 di Solo , maupun 10 Tahun Kerusuhan Solo : Solo Bangkit.

sekalian nitip link:
http://store.solopos.com/produk/buku/ebook/rekaman-lensa-peristiwa-mei-1998-di-solo/