Kamis, 05 November 2009
Imajinasi Subversif dan Iblis
Judul : Ular di Mangkuk Nabi
Penulis : Triyanto Triwikromo
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta\
Cetak : 2009
Tebal : xii + 168 halaman
Cerpen telah jadi ruang untuk kemungkinan dan ketidakmungkinan dari realitas. Narasi sebagai strategi teks menjadi pertaruhan imajinasi dan pergulatan realitas dengan permainan tanda dan produksi makna. Cerpen pun menanggung beban dalam bentuk negasi dan afirmasi atas hasrat naratif pengarang pada pembaca sebagai subjek pencari-penemu makna. Kumpulan cerita Ular di Mangkuk Nabi anggitan Triyanto Triwikromo adalah contoh dari kehadiran pelbagai ketidakmungkinan untuk “mungkin” dalam konstruksi kata dan makna dengan tegangan-tegangan surealisme.
Pembaca bakal menghadapi menu-menu cerita dengan keliaran imajinasi sebagai bentuk subversi atas realitas. Percampuran fakta dan fiksi membuat adonan cerita rimbun oleh tanda dan cerita menjelma labirin makna. Triyanto Triwikromo seperti mengantarkan pembaca pada kamar-kamar terbuka dengan pelbagai realitas dan dekorasi. Peta cerita tidak memberi jaminan pembaca untuk selamat sampai pintu akhir atau tersesat dan sekarat dengan khidmat.
Cerpen “Delirium Mangkuk Nabi” merupakan contoh kelihaian pengarang dalam menghadirkan retakan dan jejaring peristiwa. Pembaca susah untuk berlari dalam cerita karena ada hambatan-hambatan tanda untuk jeda dan istirahat mengurusi tautan referensial dan kemungkinan pembebasan imajinasi. Konstruksi bahasa jadi senjata pengarang untuk memikat dan menebar sihir melalui kehadiran tokoh-tokoh ganjil dalam peristiwa-peristiwa memukau dan mirip kenakalan imajinasi hitam. Cerita mungkin luput dari genggaman karena cerpen ini sesak dengan acuan-acuan semiotik.
Sinopsis atas cerita nyaris disajikan sebagai menu lezat. Cerita-cerita Triyanto Triwikromo justru kerap mengusung lakon dari jagad kelam meski mendapati lambaran teologis. Kumpulan cerita menjelma realisasi teologi estetika tanpa rikuh dalam kebebasan tafsir atas lakon-lakon sejarah dan suci. Pengarang juga membebaskan diri dari dikotomi kakau atas karakterisasi tokoh dalam stereotip publik. Kontradiksi-kontradiksi identitas tokoh dan peristiwa memberi sihir estetis tapi kritis.
* * *
Cerpen-cerpen tentang salib dan penyaliban menjadi suguhan ajaib. Tafsir pengarang cenderung melampaui batas curiga pembaca terhadap kelaziman cerita. Adegan penyaliban pada Yesus ditranformasikan ke dalam adegan-adegan lain dengan pluralitas makna. Narasi penyaliban dalam cerpen “Matahari Masih Dingin” bisa dijadikan acuan teologis terhadap adegan penyaliban tapi lekas memencar dalam adegan penyaliban dengan keterpecahan makna asal.
Kutipan kecil ini mungkin jadi benih subversi atas kelaziman tapi masih mengusung jejak-jejak pemaknaan teologis: “Dalam dingin tak terperi itu, siapa tahu mereka bisa menatap motif tusukan-tusukan lembing sedadu serupa tato daun-daun hijau ungu di sekujur tubuh Kristus yang tertunduk pasrah menerima kehendak Allah, di salib yang tak kelihatan, di tangan yang telah kehilangan paku-pakunya, di kaki yang tak lagi menetes-neteskan darah kental.”
Ketelatenan dan kekhusukkan menggarap narasi-narasi salib dan penyaliban membuktikan gairah Triyanto Triwikromo memasuki tegangan-tegangan tafsir teologis dalam pertaruhan estetika. Gairah itu telah muncul sejak lama dan terus mengalami eksplorasi tanpa henti. Pembaca bisa melacak kembali anutan estetika salib dalam buku kumpulan cerpen Sayap Anjing (2003) dan Malam Sepasang Lampion (2004). Triyanto Triwikromo menjelma pengarang dengan memanggul salib untuk mewartakan lakon-lakon hidup dalam ambang batas kemungkinan dan ketidakmungkinan.
Triyanto Triwikromo (2003: x) mengakui: “Cerita-cerita saya juga dipenuhi idiom penyaliban Isa dan atau orang-orang yang diharuskan menerima siksaan penyaliban. Sebagai manusia yang hidup dalam pengaruh dua agama besar (nenek saya muslimah yang taat dan kedua orangtua pemeluk Kristen Protestan), saya menganggap tragik terbesar manusia adalah ketika mereka tak bisa menghindarkan diri dari kutuk sekaligus anugerah penyaliban.”
* * *
Pengarang juga suntuk menggarap tokoh-tokoh iblis, setan, hantu, atau jin. Estetika iblis menjadi pertaruhan pewartaan realitas dalam remang dan menegangkan. Triyanto Triwikromo fasih mengonstruksi identitas iblis untuk menjadi tanda kunci dalam kehadiran cerita dan pembongkaran makna. Kehadiran tokoh-tokoh malaikat kadang jadi tandingan tapi juga kerap masuk dalam kerimbunan ambiguitas metafisika. Cerpen “Malaikat Kakus” pantas jadi contoh kesuraman tokoh-tokoh (malaikat dan iblis) dengan narasi gelap dan keras.
Estetika iblis dalam cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo merupakan pergulatan panjang dengan kesadaran ada subversi atas pandangan hitam putih terhadap makhluk-makhluk Tuhan. Konstruksi tokoh dijadikan sebagai strategi untuk melesapkan sifat atau karakter dengan kritik-kritik keras atas nama manusia atau “ tak manusia”. Pembaca bisa membuka kembali cerpen-cerpen lama dengan tokoh dan tentang sifat-sifat iblis. Barangkali cerpen “Keluarga Iblis” (2004) jadi eksplisitas kegairahan Triyanto Triwikromo memasuki jagad kelam dan tema ini jarang dirambah oleh pengarang-pengarang lain.
Kumpulan cerita Ular di Mangkuk Nabi pantas jadi buku prestisius untuk prosa dalam kesusastraan Indonesia mutakhir. Triyanto Triwikromo membuktikan diri sebagai pengarang mumpuni dan tokoh penting dalam gerak pembaharuan prosa di Indonesia. Penahbisan Triyanto Triwikromo sebagai pengarang fenomenal tahun ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pergulatan estetika dan penghadiran cerita-cerita memukau tanpa jatuh dalam sensasi dan kontroversi. Orotitas kepengarangan Triyanto Triwikromo juga menemukan legitimasi dalam pembahasan kritis oleh Goenawan Mohamad dan Budi Darma dalam buku ini. Begitu.
Lampung Post (11 Oktober 2oo9)
Kamis, 24 September 2009
Mengabarkan Tak Mengaburkan
Judul : Kolam
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Editum, Jakarta
Cetak : 2009
Tebal : 120 Halaman
Puisi belum mau redup.. Barangkali ini dalil yang diusung Sapardi Djoko Damono dalam penerbitan buku puisi Kolam yang menyuguhkan 51 puisi naratif dan liris. Puisi-puisi Sapardi masih ingin mengabarkan kisah-kisah hidup tanpa harus mengaburkan dengan kerumitan bahasa atau kecerewetan filsafat. Kata-kata dihadirkan untuk kabar hidup dan menyemaikan makna.
Sapardi masih tekun mencatat peristiwa-peristiwa kecil sebagai bab tak terlupakan dari lakon besar kehidupan manusia. Peristiwa dinikmati dengan olahan kata untuk pertaruhan imajinasi dalam tegangan kenaifan dan pembukaan tabir hidup antara fakta dan fiksi. Puisi bicara dengan kesanggupan membuat hidup tak selesai sebagai peristiwa. Permainan makna menjadi penentu kenikmatan merasai hidup dalam deretan panjang peristiwa.
Puisi “Sonet 12” adalah contoh kebersahajaan menanyakan kembali lakon hidup dalam permenungan kecil. Puisi jadi medium untuk mengajukan tanya dengan dalil dan dalih eksistensi tanpa absolutisme. Simaklah: Perjalanan kita selama ini ternyata tanpa tanda baca, / tak ada huruf kapital di awalnya. Kalimat awal ini ajakan untuk pembaca agar mafhum dengan kesadaran kritis melalui kata “ternyata”. Kehadiran kata ini seperti ingin mengingatkan kembali dengan aksentuasi yang membenarkan atau membuktikan.
Pola kalimat ini jadi ciri penyair yang menekuni puisi sebagai representasi dan realisasi bahasa. Kebersahajaan tapi mengejutkan adalah kelihaian dalam permainan bahasa. Pengingatan perjalanan hidup tanpa tanda baca dan ketiadaan huruf kapital menjadi kesadaran yang menantang kelaziman sebagai kodrat biasa. Sapardi mengingatkan ada hal tak biasa dari keimanan manusia tentang pelbagai hal sebagi kebiasaan karena intensitas dalam pengulangan. Konklusi kecil jadi penguatan “Sonet 12” sebagai puisi permenungan: Kita tak pernah yakin apakah titik mesti ada. Keraguan jadi lambaran untuk menanyakan hidup tanpa mesti tergesa mengajukan jawaban.
Puisi-puisi permenungan tampak menempati kedudukan penting dalam buku puisi Kolam dengan fakta ketelatenan laku estetis penyair dan pematangan usia sebagai seorang tua. Tendensi permenungan ingin mengental sebagai lanjutan dari jejak-jejak puisi masa lalu sejak DukaMu Abadi (1969). Puisi-puisi awal Sapardi dengan kuat menjadi percikan permenungan tanpa jatuh sebagai khotbah atau propaganda moral. Kebersahajaan justru membuat puisi memiliki kodrat kekal sebagai acuan membaca dan menilai hidup. Buku puisi Kolam mungkin penyempurnaan lanjut dari kekhusukkan Sapardi memerkarakan peristiwa dan mengekalkan makna. Peyempurnaan lanjut ini seperti bibliografi dari kelahiran buku-buku puisi pada masa lalu. Kolam bukan konklusi akhir tapi bibliografi terbuka.
Permenungan bersahaja kentara dalam puisi pembuka “Bayangkan Seandainya” yang mengingatkan pembaca pada tipikal pengucapan puitik dari Sapardi: Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini/bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit/berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya. Keakraban penyair tampak dari pola relasional antara manusia dan tanda-tanda alam. Kehadiran dan peran menentukan nasib yang niscaya berubah dengan kesadaran prediksi atau lepas sebagai ketundukkan atas kekuasaan dan kekuataan yang lebih besar.
Sapardi dengan puisi-puisi sahaja tidak memiliki tendensi untuk menciptakan fiksi bombastis. Pengalaman jadi acuan untuk mengabarkan dengan konstruksi kata dan narasi yang tak luput atau mrucut dari kelumrahan tapi dimungkinkan menjadi fiksi mengejutkan. Sapardi dalam proses kreatif kerap mengakui memiliki tradisi untuk sadar dengan pengalaman. Kesadaran itu tak tergesa untuk dituliskan pada saat teralami tapi menemukan pengolahan reflektif dalam jeda agar kabar tak jadi kabur.
Puisi dengan anutan pengalaman itu kentara dalam puisi “Laki-laki yang Pekerjaannya Mengorek Tempat Sampah”, “Hari Ulang Tahun Perkawinan”, “Waktu Ada Kecelakaan”, “Anak Kecil”, atau “Secangkir Kopi”. Pengalaman atas peristiwa-peristiwa kecil dan biasa itu menjelma puisi reflektif tanpa nasihat-nasihat murahan. Sapardi justru ingin mengesankan itu sebagai kabar lain dari pembedaan terhadap stereotipe pembahasaan peristiwa sebagai informasi biasa. Kabar dalam puisi-puisi Sapardi adalah ikhtiar mengekalkan tanpa mengabaikan informasi sebagai dalil untuk percaya atau tidak percaya.
Puisi “Secangkir Kopi” mungkin patut jadi pembuktian keinginan mengekalkan pengalaman atas peristiwa: Secangkir kopi yang dengan tenang menunggu / kauminum itu tidak pernah mengusut kenapa kau bisa / membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kauhirup / ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak / bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di / atas meja setiap pagi. Ini puisi keseharian tapi menjelma sebagai kesahihan kata dan makna untuk mengekalkan fragmen-fragmen hidup.
Usia tua tak membuat Sapardi redup dalam melakukan eksplorasi estetik dalam ranah lahirian dan batiniah. Puisi jadi pengucapan unik untuk menyemaikan tafsir atas benih-benih makna dari yang sepele sampai yang kompleks. Eksplorasi estetik jadi suguhan mengejutkan dalam pemberian judul. Sapardi tampak “cerewet kecil” dengan memberi judul panjang yang belum tentu menggamblangkan isi. Bacalah judul puisi itu dengan nafas panjang: Sebilah Pisau Dapur yang Kaubeli dari Penjaja yang Setidaknya Seminggu Sekali Muncul di Kompleks, yang Selalu Berjalan Menunduk dan hanya Sesekali Menawarkan Dagangannya dengan Suara yang Kadang Terdengar Kadang Tidak, yang Kalau Ditanya Berapa Harganya Dikatakannya, “Terserah Situ Saja ...” Judul panjang mengejutkan tapi jadi tak mengejutkan ketika pembaca membaca khusuk menikmati 12 fragmen yang diajukan mengenai lakon pisau. Sapardi memang ingin sedikit genit tapi tak pelit untuk mengabarkan lakon hidup dalam puisi yang prosaik. Begitu.
Dimuat di Lampung Post (30 Agustus 2oo9)
Geger Membaca Berger
Judul : Peter L. Berger (Perspektif Metateori Pemikiran)
Penulis : Geger Riyanto
Penerbit : LP3ES
Cetak : 2009
Tebal : xiv + 254 Halaman
Pemikiran-pemikiran Peter L. Berger sudah sejak lama dikenal dan diperkarakan dalam diskursus ilmu sosial di Indonesia. Perjemahan buku-buku Berger dengan gencar dilakukan oleh LP3ES dibarengi dengan sebaran artikel-artikel oleh para pakar di jurnal, majalah, dan koran penting. Tebaran pemikiran Berger pun mendapati antusiasme dari pelbagai kalangan dengan perspektif plural dari sosiologi sampai filsafat. Berger telah menjadi berkah tapi lekas redup sebagai acuan dari pergulatan wacana ilmu sosial mutakhir.
Jejak-jejak Berger memang masih tercatat dalam sejarah pemikiran ilmu sosial di Indonesia meski sudah ditumpuki oleh tokoh-tokoh mutakhir dengan gagasan-gagasan progresif. Jejak-jejak Berger itu menjadi alasan bagi Geger untuk melakukan pembacaan ulang dan perumusan kontribusi signifikan dari Berger. Buku ini jadi bukti dari ketekunan Geger membaca Berger dalam tradisi ilmiah tapi tidak ketat dalam permainan bahasa.
Geger dalam prakata mengungkapkan bahwa pemikiran Berger menjadi pintu masuk untuk ketekunan menggarap studi identitas dan kebudayaan. Resepsi ini lalu dibandingkan dengan pemahaman sekian dosen dan sosiolog terhadap wacana Berger dan kondisi ilmu sosial di Indonesia. Geger menemukan konklusi bahwa konstruksi sosiologi masih rentan dengan kebimbangan untuk menemukan akar dan fondasi di antara godaan-godaan kekuasaan dan lakon genit dari modernitas di negara berkembang. Geger pun dengan eksplisit mengajukan buku ini sebagai ikhtiar mendeskripsikan dan menganalisis secara metateori dalam tegangan perdebatan sosiologi.
Metaterori diartikan dalam studi ini sebagai kebutuhan untuk memberikan pemetaan terhadap pluralisitik horizon pemikiran sosiologi. Berger ditempatkan sebagai tokoh dengan kerimbunan pemikiran dalam mengantarkan menu sosilogi dan masuk dalam perdebatan panjang sosiologi. Berger identik dengan teori-teori sosiologi pengetahuan dengan orientasi kefilsafatan. Peran Berger menjadi penting karena pergulatan wacana sosiologis pada masa 1970-an dan 1980-an bergerak pada sekian arah dengan konsekuensi-konsekuensi persemaian dan keruntuhan sosiologi. Berger menampatkan diri sebagai sosok pelawan arus pemikiran dominan pada masa itu meski terseret dalam bias sosiologi pengetahuan.
Kontribusi penting Berger ditunjukkan dengan publikasi buku The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sosiology of Knowledge (1966). Buku ini dikerjakan bersama Thomas Luckman. Berger melalui buku ini mengajukan gagasan perubahan dalam sosiologi pengetahuan: (1) Berger menganggap sejarah perkembangan gagasan dan ideologi merupakan bagian kecil dari wacana sosiologi pengetahuan dan (2) sosiologi pengetahuan merupakan ilmu dengan konsentrasi pada hubungan antara konteks sosial dan pengetahuan manusia.
Geger dengan deskripsi matang menempatkan posisi pemikiran Berger dalam rentetan kehadiran tokoh dan pemikiran kunci sosiologi. Berger sengaja dijadikan sebagai bab penting untuk menunjukkan pemetaan tentang rumusan-rumusan dari perdebatan sosiologi. Berger mendapat apresiasi positif meski dalam sejarah sebaran pemikiran kerap mendapat kritik dan penolakan. Geger pun jeli membuat perbandingan dan semacam penguatan (pemihakan?) atas posisi pemikiran Berger.
Asumsi kunci dari Berger seperti jadi kunci bagi Geger untuk petualangan dalam lakon sosiologi pengetahuan. Berger mengasumsikan bahwa realitas dan pengetahuan adalah hasil dari konstruksi sosial. Konstruksi itu terbentuk melalui proses institusionalisasi, legitimasi, dan sosialisasi. Proses institusionalisasi adalah pembentukan pola, aturan, atau peran di antara kelompok orang. Legitimasi menjadi pengesahan dalam penjelasan-penjelasan secara logis terhadap proses institusionalisasi. Proses lanjutan adalah institusi dipertahankan dengan disosialisasikan pada anggota-anggota baru dalam kelompok sosial.
Geger dalam buku ini sanggup memberi penjelasan kritis terhadap pemikiran kunci Berger. Geger terbukti telaten dalam membaca dan menafsirkan Berger dalam kerangka besar sosiologi pengetahuan. Teori konstruksi sosial adalah perkara esensial dal;am sosiologi pengetahuan. Teori ini ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan besar: Bagaimanakah proses terkonstruksi realitas dalam benak individu? Bagaimana sebuah pengetahuan dapat terbentuk di tengah-tengah masyarakat?
Geger dengan takzim memberikan penjelasan dan mengajukan contoh untuk menopang gagasan Berger. Geger sampai pada afirmasi terhadap implikasi pemikiran sosiologi pengetahuan dari Berger: penjelasan sosiologis harus bisa menjelaskan realitas sosial dalam sifat subjektif dan objektif. Penjelasan sosiologis adalah ikhtiar mengintegrasikan antara dimensi makro dan mikro dari fenomena sosiologi. Geger telah mengantarkan pembaca pada fragmen penting mengenai kontribusi Berger tanpa ada penjlimetan atau kecerewetan tafsiran.
Kerja intensif mengurusi pemikiran-pemikiran Berger oleh Geger sampai pada konklusi dan kritik. Geger mengakui bahwa pemikiran Berger memiliki posisi khusus dalam sosiologi. Tuduhan dan pemetaan dari para ahli sosiologi terhadap peran Berger dalam arus pemikiran dengan paradigma individual ditolak oleh Geger. Pemetaan itu jelas menafikan konsentrasi Berger dalam membaca dan menilai manusia dengan teori konstruksi sosial. Geger menganggap Berger telah melampaui paradigma invidualis tapi secara gamblang posisi Berger susah dikategorikan oleh kritik dan bias atas sosiologi pengetahuan. Buku ini diakhiri dengan keberanian Geger dengan pelbagai pertimbangan logis untuk menjuluki Berger sebagai pemikir realisme-konstruktivis. Begitu.
Dimuat di Seputar Indonesia (23 Agustus 2oo9)
Jumat, 03 Juli 2009
Puisi yang Menyapa
Bandung Mawardi
Hari ini Sapardi Djoko Damono masih menyapa kita dengan puisi. Usia tua tak bisa jadi alasan untuk istirahat dari puisi. Tua adalah usia biologis tapi imajinasi belum tentu bebarengan dengan kerentaan. Imajinasi terus disemaikan dengan ketelatenan mengurusi kata dan makna. Sapardi menyuguhkan setumpuk puisi yang dikemas dalam buku Kolam sebagai bukti penyair menunaikan hajat kehidupan.
Puisi-puisi Sapardi masih memiliki ruh dalam kebersahajaan bahasa untuk peluapan makna. Kebersahajaan jadi dalil tanpa harus menutup pintu-pintu tafsir untuk pencarian dan penemuan makna. Konstruksi puisi Sapardi sejak dulu memang mengesankan olahan kata dalam batas otoritas bocah dan nabi. Kata-kata dituliskan dalam tegangan permainan dan perhitungan matang. Pola ini jadi penyebab puisi-puisi lahir dalam kebersahajaan tapi menyapa dengan mengena untuk refleksi.
Kolam dengan muatan 51 puisi ini terbagi menjadi tiga bagian dengan label “Buku Satu”, “Buku Dua”, dan “Buku 3”. Pembagian ini mengesankan pergulatan estetika dalam eksplorasi bentuk dan tematik. Sapardi dengan lihai menunjukkan olahan soneta dalam “Buku Dua”. Pilihan bentuk soneta ini mengingatkan pembaca pada kegandrungan para Pujangga Baru pada tahun 1930-an. Soneta pada masa itu memiliki sifat emansipatif dari bentuk-bentuk puisi lama. Kesadaran emansipatif itu kerap tak dibarengi dengan eksplorasi dalam olahan kata dan makna. Konvensi-konvensi dalam soneta pun diolah penyair mirip dengan penerimaan atas bentuk-bentuk puisi lama: pantun atau syair.
Sapardi menghadirkan puisi dalam bentuk soneta sejumlah lima belas. Bentuk soneta ini jadi pertaruhan untuk mengeksplorasi bahasa dan tema. Kehadiran 15 sonet itu membuktikan laku estetik yang matang dan istiqomah. Simaklah bait awal dalam “Sonet 4” ini: “Hidup terasa benar-benar tak mau redup/ketika sudah kaudengar pesan:/suatu hari semua bunyi rapat tertutup”/Penyanyi itu tuli. Suaramu terdengar pelahan. Bentuk soneta tak jadi hambatan pada penyair untuk melepaskan keliaran imajinasi dalam tatanan kata bersahaja.
Efek puitis jadi perhitungan matang untuk kehadiran soneta yang liris dan musikal. Bunyi jadi ruh untuk soneta mengucapkan diri. Perkara bunyi ini yang kerap diajukan Sapardi sebagai proposal dalam laku estetik menulis puisi. Bunyi adalah lambaran estetika untuk penyair sanggup menuliskan puisi yang berbunyi alias bernyawa. Simaklah dua bait akhir dalam “Sonet 13” yang sadar bunyi untuk olahan tematik hujan: Butir-butir hujan menderas dari sudur-sudut daun itu/tepat ketika kita lewat. Kupandang ke atas./Pohon itu tak lagi menatapmu. Membasahi kerudungmu,/meluncur ke pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.//Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan/tanpa bicara. Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan? Soneta ini berbunyi dan mungkin memberi ekstase imajinasi.
Kebersahajaan puisi-puisi Sapardi tidak sekadar mengurusi olahan estetika tanpa kesadaran tematik. Tema tentang diri (manusia) memang menjadi pokok dalam pertaruhan estetika. Kesadaran itu digenapi dengan olahan puisi untuk mengisahkan sosok-sosok dalam peristiwa atau lakon kecil atau besar. Pilihan tematik jadi bab penting dari kepekaan Sapardi atas tegangan fakta dan fiksi.
Sapardi dalam puisi “Kota Kami” dengan kritis mengajukan lakon kota dalam tarikan masa lalu dan proses perubahan yang cepat. Kritik dengan puisi bersahaja ini memiliki efek imajinasi yang kental untuk dihadapkan dengan realitas kota hari ini. Sapardi menulis: Kota kami telah menyaksikan gedung-gedung dan pabrik-/pabrik dibangun sampai tumpah ruah keluar dari pinggir-/pinggirnya.//Dulu, kata dongeng itu, pernah ada sebuah danau agak di/pinggirnya tapi ia tidak ingat lagi kapan suasana yang mungkin/bisa menenteramkan hati itu tak lagi ada. Kritik keras ini berbunyi dalam puisi yang tak jatuh sebagai kumpulan kata untuk demonstrasi.
Sapardi pun mengajukan kritik dalam puisi “Asap Pabrik.” Puisi ini liris mengucapkan kritik untuk kesadaran ekologis, teologis, dan filosofis. Sapardi dengan canggih memerkarakan asap dalam jalinan imajinasi yang bertumpuk. Asap tak sekadar jadi tanda untuk polusi tapi juga tanda untuk kesadaran imperatif terhadap alam, manusia,. dan Tuhan. Simaklah: asap pabrik di kota/membumbung, hanya Tuhan/yang tahu ke mana//hanya Tuhan yang tahu/kenapa ia membumbung/dari cerobong itu//hanya kita tak tahu/hubungan antara asap dan Tuhan -//yang sama sekali tidak pernah/menyembunyikan apa pun/dari kita.
Membaca puisi-puisi Sapardi dalam Kolam seperti membuat babak lanjutan dari buku puisi DukaMu Abadi, Mata Pisau, Perahu Kertas, Hujan Bulan Juni, Mata Jendela, Ayat-Ayat Api, dan Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? Babak lanjutan ini membuktikan Sapardi belum lelah mengurusi dan membunyikan kata dan makna. Buku Kolam memang jado kolam imajinasi atas pelbagai peristiwa dan lakon untuk refleksi. Puisi ternyata masih ingin menyapa meski usia renta.
Buku puisi Kolam tentu jadi pertaruhan penyair untuk laku kreatif dalam olahan estetika puisi. Sapardi telah menuliskan dan menyuguhkan puisi pada pembaca. Silakan pembaca memberi nilai dan membalas sapaan puisi. Sapardi mafhum bahwa kehadiran puisi bukan kehadiran jawaban atau konklusi tapi perumusan tanya untuk godaan mencari-menemukan jawab pada pembaca. Dalil ini disajikan dalam puisi “Ketika Kita Membuka Lembaran Kertas Ini.” Simaklah dalam kaitan dengan kehadiran tanya dalam puisi: Ketika kita membuka puisi ini apakah lembaran/lembaran kertas ini bertanya untuk apa? Puisi ini telah menyapa dan menanyakan. Pembaca mau apa?
Dimuat di Suara Merdeka (14 Juni 2009)
Sandiwara itu Propaganda!
Bandung Mawardi
Fragmen sejarah sandiwara pada masa Jepang terkuak dan memiliki arti dalam buku ini. Studi Fandy Hutari seperti menggenapi kerja H.B. Jassin dalam studi Kesusastraan di Masa Jepang (1969). Masa pendudukan Jepang (1942-1945) kerap diklaim sebagai masa menentukan untuk perubahan nasib kesusastraan dan sandiwara. A. Teeuw, Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo, dan H.B. Jassin mengakui bahwa masa pendek itu telah memberi ruh lain dalam pembentukan sastra Indonesia modern. Bagaimana dengan nasib sandiwara?
Peringatan H.B. Jassin (1969: 7): “Menafikan kesusastraan dalam zaman Jepang adalah menafikan suatu wajah kehidupan dalam perjalanan membentuk sejarah.” Peringatan itu pantas menajdi dalil untuk kehadiran buku Sandiwara dan Perang sebagai studi atas nasib sandiwara dalam masa pendudukan Jepang. Penulis buku ini mengakui bahwa sejarah sandiwara pada masa Jepang tak mungkin diabaikan dalam alur sejarah teater Indonesia modern. Sandiwara pada masa itu kental dengan intervensi kekuasaan untuk propaganda. Wajah politis itu kerap terpinggirkan dan terabaikan dalam sejarah sandiwara modern Indonesia. Fandy Hutari dengan teliti melakukan pendataan dan penafsiran dalam konteks zaman 1940-an untuk mengetahui proses pembentukan sandiwara Indonesia modern dalam bayang-bayang kolonial.
Proses penulisan buku ini mendapati stimulus dari buku Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa (1942-1945) garapan Aiko Kurasawa, artikel Sandiwara di Zaman Jepang (1978) tulisan Kamajaya, Film Indonesia Bagian I (1900-1950) garapan Taufik Abdullah, S.M. Ardan, Misbach Yusa Biran, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia garapan Jakob Sumardjo.
Penulis melakukan penelusuran sejarah sandiwara mulai dari 1925-1941 sebelum sampai pada fokus nasib sandiwara pada masa pendudukan Jepang. Tahun 1925 diakui penulis sebagai fase menentukan untuk pembaharuan dalam jagad sandiwara. Pembaharuan itu sebagai pembeda atas zaman stambul atau opera. Contoh pembaharuan tampak pada Perkumpulan Sandiwara Miss Riboet Orion (1925) dengan pimpinan Tio Tek Djien dan Perkumpulan Sandiwara The Malay Opera Dardanella (1926) dengan pimpinan A. Piedro. Dua kelompok sandiwara itu terlibat dalam persaingan sengit untuk meraih perhatian publik dengan garapan pertunjukkan modern.
Persaingan tergambarkan dalam buku Gelombang Hidupku: Dwi Ja dari Dardanella (1982) anggitan Ramadhan K.H. Persaingan tampak dalam perang reklame dengan menghabiskan dana 6.000 gulden pada 30 Oktober 1931. Dardanella memainkan lakon Dr. Samsi dan Miss Riboet Orion memainkan lakon Gagak Solo. Persaingan sengit dan mahal membuat Miss Riboet Orion bubar pada tahun 1934 dan Dardanella mencapai puncak popularitas meski dalam waktu singkat. Dardanella pun tamat riwayat pada tahun 1935 karena tokoh-tokoh kunci melakukan pentas keliling Asia.
Dua kasus dua perkumpulan sandiwara itu jadi representasi kondisi surut dalam sandiwara Indonesia sejak 1938 sampai 1941. Popularitas film pada masa itu juga ikut mempengaruhi sandiwara mati suri karena tokoh-tokoh sandiwara hijrah ke film dan publik gandrung menikmati tontonan film. Ajip Rosidi (1965) mencatat bahwa pada masa surut itu hanya ada terbitan dua naskah sandiwara: Pembalasannya anggitan Sa’adah Alim dan Gadis Modern anggitan Adlin Affandi. Kehadiran dua naskah itu tak sanggup menggairahkan jagad sandiwara pada tahun 1940-1941.
Pendudukkan Jepang pada tahun 1942 menjadi titik balik untuk kehidupan sandiwara dalam wajah lain. Jepang memakai propaganda sebagai dalil untuk legitimasi kekuasaan. Sendenbu (Departemen Propaganda) dibentuk untuk menagani sistem dan operasionalisasi propaganda dengan memanfaatkan fil, surat kabar, pamflet, buku, poster, foto, siaran radio, pidato, seni pertunjukkan tradisional, dan seni sandiwara modern. Fandy Hutari menafsirkan bahwa sandiwara modern dipilih sebagai alat propaganda karena dapat menggelorakan perasaan orang banyak. Penguatan untuk propaganda dalam sandiwara tampak kentara mulai tahun 1944-1945.
Sendenbu dalam praktik propaganda dibantu oleh Keimin Bunka Shidoso (Kantor Pusat Kebudayaan) dengan tugas: (1) mempromosikan kesenian-kesenian tradisional Indonesia; (2) mendidik dan melatih seniman-seniman Indonesia; (3) memperkenalkan dan menyebarkan kebudayaan Jepang. Realisasi dari kerja Sendenbu itu adalah pendirian Sekolah Tonil di Jakarta pada tahun 1942. Sekolah ini memiliki tujuan untuk mendidik penulis naskah profesional, aktor, dan kerabat sandiwara dengan orientasi untuk propaganda.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa sejak 1942 sandiwara seperti menemukan ruh kembali untuk mengisi fragmen sejarah Indonesia. Armijn Pane menengarai kebangkitan itu mendapati pengaruh dari program propaganda Jepang. Perkumpulan sandiwara pun tumbuh dengan gairah zaman antara lain: Tjahaja Asia, Bintang Soerabaja, Dewi Mada, Tjahaja Timoer, Bintang Warnasari, Sinar Sari, Persafi, dan Maya. Perkumpulan Sandiwara Penggemar Maya berdiri pada 27 Mei 1944 dengan tokoh Usmar Ismail, El Hakim (Aboe Hanifah), Rosihan Anwar, D. Djajakoesoema, dan Surjo Soemanto. Kelompok ini jadi bukti pembaharuan sandiwara modern di Indonesia meski susah melepaskan diri dari pengaruh kolonial Jepang dengan dalil propaganda.
Propaganda berasal dari bahasa Latin propagare berarti perluasan atau penyebarluasan. Harry Shaw (1972) mengartikan propaganda sebagai informasi, ide-ide, atau gosip yang disebarluaskan untuk mendukung atau menghancurkan seseorang, kelompok, gerakan, keyakinan, lembaga, atau bangsa. James E. Comb dan Nimmo (1994) mengartikan propaganda sebagai ikhtiar mempengaruhi opini dan tingkah laku (Sunu Wasono, Sastra Propaganda, 2007).
Konsep dan teknik propaganda dalam masa Jepang dijelaskan Fandy Hutari dalam tiga media: (1) propaganda dalam pertunjukkan perkumpulan sandiwara; (2) propaganda melalui siaran sandiwara radio; dan (3) pesan propaganda dalam naskah lakon sandiwara.
Dalil propaganda itu kentara dalam pengumuman di koran Asia Raya (20 September 1943) mengenai sayembara mengarang cerita sandiwara oleh Keimin Bunka Shidosho. Tema sayembara adalah anjuran tentang semangat cinta tanah air, keikhalasan berkorban demi kepentingan umum, dan semangat membela tanah air. Pemenang sayembara: F.A. Tamboenan (Poesaka Sedjati dari Seorang Ajah), J. Hoetagalung (Koeli dan Roomusya), A.M. Soekma Rahayoe (Banteng Bererong), S. Yamamato (Kemenangan Tertanggoeng), R. Srimoertono (Penginapan Noesantara), dan Nakao Masakozu (Seroean Zaman). Sandiwara memang pantas jadi propaganda? Begitukah?
Dimuat di Lampung Post (14 Juni 2009)
Selasa, 09 Juni 2009
Risalah Sengsara
Bandung Mawardi
Kisah sengsara tak usai dalam novel. Sengsara seperti jadi kutukan untuk pengarang menciptakan kisah dengan haru dan impresif. Pengarang dalam mengisahkan sengsara memiliki acuan-acuan melimpah dalam realitas hidup. Sengsara selalu ada untuk menjelma dalam kata dan imajinasi.
Novel Ma Yan ini jadi kamus sengsara dari seorang bocah perempuan di tempat terpencil di Cina. Sengsara membuat Ma Yan sadar atas lakon hidup untuk menerima atau menolak. Ma Yan terkadang merasakan sengsara itu sebagai kutukan karena kekalahan atau kesalahan memberi jawaban hidup dengan sempurna. Kutukan itu tak membuat Ma Yan jatuh dan pasrah. Kutukan mungkin jadi seribu pertanyaan untuk lekas mendapati jawaban.
Ma Yan lahir dari keluarga miskin. Kondisi ini membuat Ma Yan mahfum dengan lapar. Perut orang miskin tak mungkin manja dengan makanan. Lapar seperti ritual dengan pertaruhan hidup. Ibu Ma Yan mengajarakan bahwa lapar itu bakal jadi ingatan tentang hidup. Lapar mungkin jadi tanda seru dari Tuhan. Ma Yan pun tanpa pemberontakan menerima lapar itu sebagai ritual untuk sadar ambang batas hidup dan mati.
Kisah impresif dalam novel ini adalah ikhtiar Ma Yan untuk bisa sekolah. Kemiskinan jadi dalil kepasrahan dan keberanian menempuhi jarak 20 kilometer untuk bisa sekolah. Ma Yan tak lelah untuk menempuh jarak jauh itu dengan berjalan. Jarak jauh mungkin sekadar fantasi jelek. Ma Yan menganggap perjalanan ke sekolah adalah perjalanan merubah hidup dengan pengetahuan dan mimpi indah.
Sekolah jadi sorga kecil untuk Ma Yan. Belajar membuat Ma Yan mahfum bahwa hidup tak selesai dengan tangisan atas kesengsaraan. Manusia mesti membuat hidup jadi berkah dengan pengorbanan dan kerja keras. Ma Yan belajar tekun untuk membuat diri jadi bocah pintar dan patut menciptakan masa depan dengan wajah cerah. Ma Yan terbukti menjadi sosok pintar di sekolah dengan peringkat atas.
Sengsara di sekolah membuat Ma Yan membuat pertaruhan berat. Ma Yan menginginkan pena untuk menulis. Harga pena mahal. Ma Yan terlanjur memiliki hasrat untuk menulis dengan pena. Keluarga tak mungkin memberi uang demi pena. Ma Yan pun merelakan tubuh jadi lapar karena uang jatah untuk makan siang disiman dan dikumpulkan untuk membeli pena. Lapar itu bisa ditanggungkan. Ma Yan sanggup lapar tapi tak sanggup untuk tidak menulis dengan pena.
Ikhtiar itu terpenuhi meski lapar. Pengakuan Ma Yan: “Aku harus menahan lapar selama lima belas hari hanya untuk membeli sebatang pena.” Pena membuat Ma Yan menemukan gairah hidup. Pena itu bakal jadi juru bicara Ma Yan untuk mengisahkan diri dalam buku harian. Ma Yan merasa bahwa dengan mencatatkan kisah hidup bakal ada refleksi hidup dari masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Catatan harian Ma Yan pun sesak dengan kisah sengsara tapi ada percik-percik harapan. Harapan itu membuat Ma Yan tak letih menciptakan mimpi untuk perubahan hidup.
Kisah dramatis itu mungkin membuat pembaca merasa haru. Selesaiakah sekadar dengan haru? Pengarang seperti mengajukan risalah edukasi dalam fragmen itu biar pembaca mahfum dengan kondisi pendidikan kaum miskin di negeri ini. Risalah itu jadi representasi dari nasib orang miskin ketika tak mungkin sekolah atau sekolah dengan pelbagai keterbatasan. Sekolah adalah hak.
Ma Yan sadar atas hak sekolah tapi selalu tertundukkan oleh kemiskinan dan ketiadaan perhatian dari pemerintah. Fasilitas minimal untuk sekolah kerap tak terpenuhi. Miskin mungkin momok untuk membuat orang terima dengan kutukan sengsara. Ma Yan ingin merubah kutukan itu tapi dalam batas tertentu kalah oleh kemiskinan. Ma Yan sempat berhenti sekolah karena orang tua tak memiliki dana. Jeda berhenti sekolah itu membuat Ma Yan sengsara seperti masuk neraka jahanam.
Pelbagai kisah sengsara dan harapan selalu dikekalkan Ma Yan dalam buku harian. Pena menjadi sarana untuk testimoni. Pena itu membuat Ma Yan masih memiliki gairah belajar. Catatan-catatan dalam buku pun menunjukkan optimisme Ma Yan untuk membuat hidup jadi indah dan lepas dari kesengsaraan. Ma Yan menulis: “Bersekolah adalah jalan menuju masa depan. Kita harus mengambil jalur yang benar. Bukan malah melantur ke jalan yang menyesatkan.” Ma Yan pada halaman lain mencatat: “Jika sekiranya aku berhasil dalam hidup, keberhasilanku adalah keberhasilan Ibu. Aku akan selalu mengingtanya.”
Optimisme memuncak dalam catatan ini: “Aku harus bekerja keras dan mengikuti ujian masuk universitas bergengsi. Kemudian aku akan dapat pekerjaan supaya Ibu bisa menikmati makanan hingga benar-benar kenyang dan menjalani kehidupan yang lebih baik..” Optimisme itu membuat Ma Yan sanggup menjalani hidup dengan melawan kesengsaraan.
Orang miskin dengn pesismisme mungkin lekas mati atau menciptakan sengsara abadi. Ma Yan ingin perubahan dalam hidup. Pesimisme mesti dikubur atau dikalahkan meski terus jadi bayang-bayang mengancam. Kondisi keluarga menjadi fakta untuk perangkap pesimisme. Ma Yan ketika berhenti sekolah mendapati alasan tak ada uang. Alasan itu diimbuhi karena dia perempuan. Pesimisme sempat hinggat karena alasan-alasan itu kentara memaksa dan menekan.
Kisah-kisah sengsara Ma Yan adalah tanda tanya dan tanda seru untuk kaum miskin dan hak sekolah. Novel dengan muatan inspirasi edukasi ini pantas jadi acuan untuk refleksi dan melakukan aksi perubahan atas kondisi pendidikan di Indonesia. Sekolah adalah hak. Pemerintah mesti melunaskan hak itu dengan pelbagai konstitusi, sistem, dan praktik untuk membuat perubahan hidup. Kaum miskin patut memiliki optimisme perubahan hidup. Sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi jalan untuk menentukan arah hidup.
Novel Ma Yan adalah risalah sengsara untuk mengingatkan pembaca tentang optimisme. Ma Yan mengingatkan dalam tanya: “Orangtua menaruh harapan agar anak-anak mereka kelak menjadi orang-orang yang pandai, tapi setelah mengalami begitu banyak tahun belajar yang sulit, bagaimana bisa mereka memenuhi harapan-harapan itu?”
Dimuat di Lampung Post (31 Mei 2oo9)
Minggu, 31 Mei 2009
Memerkarakan Kelezatan Cerpen
Bandung Mawardi
Cerpen masih jadi menu lezat untuk pembaca? Kriteria lezat tentu mengandung pengertian resepsi dan interpretasi. Cerpen jadi pertaruhan untuk memanjakan atau melenakan selera dalam tegangan cerpenis, redaktur, dan pembaca. Cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda. Suguhan cerpen-cerpen itu menjadi tanda koma yang mengabarkan bahwa negeri ini memiliki daftar panjang homo fabulans (manusia pencerita). Homo fabulans itu mengajukan cerpen sebagai menu ampuh untuk mengabarkan lakon manusia.
Cerpen adalah juru bicara. Dalil ini mungkin patut diajukan untuk meresepsi kehadiran buku 2o Cerpen Indonesia Terbaik 2oo9 yang disuguhkan oleh program Anugerah Sastra Pena Kencana. Cerpen jadi godaan yang minta perhatian. Godaan itu jadi tanda tanya dan tanda seru dalam ranah kehadiran cerpen-cerpen Indonesia yang membutuhkan hormat dan nilai. Godaan bisa memuncak dan melemah tergantung pada relasi dan transaksi dalam pergulatan estetika dengan media, tingkah pembaca, iklim politik, arus sosial, atau musim kultural.
Prolog dari Triyanto Triwikromo mengesankan bahwa kehadiran 20 cerpen sebagai pilihan menu lezat cerpen Indonesia berada dalam kepungan tanya dan kerepotan menemukan jawaban. Konklusi pun lekas diwartakan bahwa kesusastraan Indonesia masih nelangsa. Cerpen terus diproduksi dengan gegap-gempita dan melimpah tanpa menebar sihir impresif untuk manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca cerpen-cerpen yang kerap dianggap elitis. Prolog ini jadi pengesahan untuk memerkarakan cerpen sebagai realisasi laku kreatif yang hidup dalam ancaman malaikat-malaikat maut. Cerpen: hidup atau mati?
Fenomena kritis atas nasib cerpen sejak lama jadi polemik dan keluhan. Jawaban-jawaban eksplisit justru diajukan dengan keriuhan pemuatan cerpen di koran dan penerbitan antologi cerpen. Publikasi cerpen jadi jawaban atas ragu atau curiga meski tak menghapus dilema. Radhar Panca Dahana (2005) mengingatkan kehadiran dan signifikansi cerpen sebagai penghuni genre prosa: “Untuk apa lagi prosa diproduksi? Ketika dunia sesungguhnya telah menjelma menjadi prosa. Ketika logika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu prosaik .... Headline surat kabar, gosip-gosip tabloid, bincang di radio, cover majalah, diskusi cafe, keceriwisan warung kopi, wabah infotaiment, hingga soap opera di milis atau komunitas, SMS, telah dengan rajinnya (dalam hitungan detik) mempersembahkan kisah-kisah nyata yang tak sekadar luar biasa, tapi juga tak terbayangkan (unimaginable).” Cerpen memang terus ada dengan tegangan-tegangan untuk gairah atau gerah.
Kehadiran buku ini jadi jawaban lanjutan atas nasib cerpen. Pilihan atas cerpen yang dianggit oleh Agus Noor, A.S. Laksana, Ayu Utami, Azhari, Danarto, Eka Kurniawan, F. Dewi Ria Utari, Gunawan Maryanto, Intan Paramadhita, Lan Fang, Linda Christanty, M. Iksana Banu, Naomi Srikandi, Nukila Amal, Putu Wijaya, Ratih Kumala, Stefany Irawan, Triyanto Triwikromo, Zaim Rofiqi, dan Zelfeni Wimra jadi representasi optimisme cerpen mutakhir untuk tak terus nelangsa. Perkara substantif adalah cerpen dengan olahan, sajian, dan rasa pada pembaca. Cerpen-cerpen itu pun ingin menyapa pembaca sebagai konsekuensi dari kerja sastra dan kultural.
Cerpen Zaim Rofiqi yang berjudul “Kamar Bunuh Diri” patut jadi perhatian pembaca untuk memerkarakan nasib cerpen Indonesia mutakhir. Alinea pertama: Kau tentu mengira kamar itu kecil. Terlalu sempit sehingga membuat pikiran sumpek, udara mampet, angan-angan mandek? Alinea ini bisa dipakai untuk menguji kelezatan cerpen-cerpen terbaik yang disuguhkan pada pembaca. Kelezatan 20 cerpen dalam buku ini kerap memberi impresi dengan gerak dan jalan beda. Konklusi: Kau jangan mengira buku antologi cerpen ini ada dalam kamar kecil tapi kau memiliki hak untuk menerima atau menolak sumpek, mampet, dan mandek.
Ini cecapan kecil atas kelezatan sekian cerpen. Cerpen “Kartu Pos dari Surga” anggitan Agus Noor memberi haru yang ungu atas kisah bocah perempuan untuk menanyakan ibu. Cerpen “Sonata” dari Lan Fang beri godaan puitik untuk menikmati naif dan romantisme. Cerpen “Lembah Kematian Ibu” dari Triyanto Triwikromo menyuguhkan pedih perempuan yang sepi liris dan rindu dendam. Cerpen “Usaha Menjadi Sakti” dari Gunawan Maryanto memberi kesan biografi manusia untuk mengalami sebagai manusia. Cerpen “Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis” dari A.S. Laksana mengingatkan resah cinta, dendam, luka, dan kematian yang dramatis.
Kelezatan cerpen-cerpen itu beda dengan tendesi aktualitas dari sekian cerpen sebagai bukti keintiman cerpen (fiksi) yang hadir di koran yang mengusung berita (fakta). Cerpen “Terbang” anggitan Ayu Utami jadi tanda seru untuk musibah-musibah kecelakaan dan refleksi atas nyawa. Cerpen “Suap” dari Putu Wijaya jadi satire yang menggelikan dan memuakkan atas lakon korupsi. Cerpen “Perbatasan” anggitan F. Dewi Ria Utari jadi panggung tanya untuk pornografi dan pornoaksi. Cerpen-cerpen ini jadi refleksi meski dalam cecapan kelezatan kadang lekas kehilangan impresi atas bahasa dan kisah.
Penilaian Wicaksono Adi mengenai cerpen-cerpen dalam buku ini sangat fasih menciptakan bentuk yang sesuai dengan isi cerita mungkin patut diamini. Kefasihan itu sebagai faktor dari kerja homo fabulans untuk menciptakan komunikasi dan interaksi. Kefasihan itu ada tapi terkadang melenakan karena kurang mengurusi kelezatan untuk pengekalan reflektif lalu cenderung menjadi catatan kecil atas berita. Barangkali curiga ini yang hendak diterangkan oleh Wicaksono Adi dalam istilah “bobot kehadiran” (cerpen tidak melulu bertumpu pada “cerita” tetapi dapat meluas menuju hal-hal lain yang mengitari peristiwa atau segala ihwal yang berada di balik “cerita”). Begitukah?
Dimuat di Jawa Pos (24 Mei 2oo9)
Minggu, 02 November 2008
Sumpah Pemuda: Catatak Kaki Sejarah
Judul : Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol
Kebangsaan Indonesia
Penulis : Keith Foulcher
Penerjemah : Daniel Situmorang dan Iskandar P. Nugraha
Penerbit : Komunitas Bambu (Jakarta)
Terbit : 2008
Tebal : xxxviii+114 Halaman
Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk Indonesia pada tahun ini dengan acuan konteks sejarah dan kondisi perpolitikan mutakhir. Panggung politik Indonesia ramai dengan wacana dan gerakan dengan sekian dalil dan pamrih. Kaum muda hadir dalam wacana partai politik, parlemen, dan presiden. Inilah musim semi untuk kaum muda.
Partai politik membuka pintu dan menggoda kaum muda dengan menu-menu politik menggiurkan. Kaum muda pun masuk tanpa sungkan dan menempatkan diri dalam posisi sebagai pemikir, juru bicara, caleg, atau suporter. Wacana politik kaum muda itu merupakan sambungan dari fragmen-fragmen sejarah Indonesia pada awal abad XX. Politik kaum muda adalah perkara darurat pada hari ini.
* * *
Buku ini sengaja hadir sebagai peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda. Keith Foulcher menghadikran buku ini dengan sorotan politik bahasa dan kritik politisasi sejarah. Perjalanan panjang Sumpah Pemuda (1928-2008) selalu menunjukkan kontroversi atas politisasi dan ideologisasi dari penguasa. Keith Foucher mengungkapkan bahwa Sumpah Pemuda sampai hari ini masih menjadi momentum politis.
Keith Foulcher dalam pengantar mengungkapkan: ”Sumpah itu telah ditahbiskan sebagai upaya mendukung perjuangan masa kontemporer dan interest politik masa kini.” Sumpah Pemuda mengalami politisasi sejak masa kolonialisme, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Politisasi itu tampak dalam pamrih revolusi, integrasi, nasionalisme, atau pembangungan. Keith Foulcher membaca pamrih-pamrih politis itu dengan acuan perubahan teks dan implikasi dalam tafsir dan pemaknaan politik.
Buku ini memuat fragmen-fragmen sejarah politik Indonesia modern. Keith Foulcher menemukan ada kesengajaan atau kealpaan dalam menerima teks Sumpah Pemuda untuk kalimat urutan tiga. Teks Sumpah Pemuda 1928: “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Teks itu kerap mengalami perubahan menjadi: “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia.”
Fakta perubahan itu mengantarkan Keith Foulcher masuk dalam teka-teki Sumpah Pemuda dengan konteks rezim politik dan implikasi politik bahasa terhadap pamrih penguasa. Kalimat ketiga dalam Sumpah Pamuda kentara menunjukkan spirit pluralitas tanpa ada represi politis untuk membuat bahasa Indonesia sebagai bahasa sentralistik. Konsensus itu mengacu pada pluralitas bahasa etnis dan kuasa bahasa Belanda pada kaum muda tahun 1920-an.
* * *
Referensi-referensi mumpuni dihadirkan untuk melakukan pembacaan dan penafsiran terhadap nasib Sumpah Pemuda. Keith Foulcher menemukan teks-teks pidato dan berita-berita koran pada tahun 1950-an memberi kontribusi penting dalam ulah perubahan teks Sumpah Pemuda. Perubahan kalimat itu mereprsentasikan tipologi kekuasaan dan lakon politik sesuai dengan desain penguasa secara sistemik dan ideologis.
Formula keliru “satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa” muncul sebagai alat ideologi oleh rezim Orde Lama untuk menumbuhkan kesadaram nasionalisme, revolusi, dan integrasi. Soekarno melakukan pengeramatan Sumpah Pemuda untuk membasmi separatisme dan gerakan-gerakan kontra-revolusi. Keith Foulcher memahami kisah itu sebagai strategi politik untuk membuat klaim Sumpah Pemuda sebagai simbol kunci secara historis dan empiris. Simbol itu dikonstruksi dengan otoritas kekuasaan untuk menjadi indoktrinasi dan alat kontrol politis.
Rezim Orde Lama cenderung memakai Sumpah Pemuda sebagai legitimasi untuk laku politik secara eksplisit. Politisasi itu memuncak pada tahun 1960-an dengan menjadikan Sumpah Pemuda sebagai simbol untuk kampanye-kampanye politis atas nama revolusi dan nasionalisme. Soekarno memang memiliki otoritas untuk memunculkan tafsir politik terhadap Sumpah Pemuda sesuai dengan perhitungan dalil dan pamrih. Soekarno menjadi sosok penting untuk cerita perubahan Sumpah Pemuda sebagai simbol politik.
Rezim Orde Baru turut melanggengkan formula “satu bangsa, satu tanh air, satu bahasa” dalam desain politik sistemik. Bahasa mulai menemukan pemaknaan politik dan ideologi mumpuni. Pemahaman kalimat ketiga Sumpah Pemuda menjadi acuan untuk merealisasikan kebijakan-kebijakan politik bahasa dengan perangkat aturan, struktur, dan institusi. Bahasa Indonesia pun menjadi simbol politik oleh Orde Baru atas pamrih stabilitas politik dan pembangunan.
Imperatif dari penguasa Orde Baru melahirkan fenomena-fenomena politis dengan peringatan Sumpah Pemuda sebagai peringatan hitoris-politis dan kontekstualisasi misi-visi pembangunan. Soeharto dengan strutur birokrasi mumpuni membuat agenda-agenda strategis: publikasi buku-buku tentang Sumpah Pemuda, sakralisasi politis Sumpah Pemuda dalam ritual resmi, pemunculan Bulan Bahasa, atau intervensi dalam agenda Kongres Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia pada masa Orde Baru adalah perkara menentukan untuk otoritas penguasa dan realisasi penundukkan terhadap rakyat. Jargon-jargon bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahasa Indonesia untuk kesuksesan pembangunan, atau bahasa adalah simbol persatuan dan kesatuan menjadi indoktrinasi secara efektif dan efisien. Laku politik Orde Baru terhadap Sumpah Pemuda itu dipahami Keith Foulcher sebagai pelepasan simbol sejarah politik menuju politisasi sejarah dan kontekstualisasi politik pragmatis.
* * *
Keith Foulcher dengan kritis menilai Sumpah Pemuda adalah catatan kaki terhadap sejarah. Peran sebagai catatan kaki itu rentan dengan intervensi, manipulasi, atau distorsi. Rezim Orde Lama dan Orde Baru dengan genit dan sistemik melakukan politisasi Sumpah Pemuda untuk pencapaian pamrih kekuasaan. Intervensi penguasa jadi penentu penerimaan dan pemakluman perubahan teks Sumpah Pemuda.
Keith Foulcher curiga bahwa intervensi itu memusat pada pamrih politik dan tidak sekadar pelupaan atau kesalahan dalam ranah linguistik. Apakah Sumpah Pemuda sebagai simbol nasionalisme dalam alur sejarah Indonesia masih pantas (sekadar) menjadi catatan kaki terhadap sejarah?
Dimuat di Seputar Indonesia (2 November 2oo8)
Senin, 13 Oktober 2008
Korban Laskar Pelangi
Judul Buku : Laskar Pelangi: The Phenomenon
Penulis : Asrosi S. Karni
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan I : September, 2008
Tebal : 262 Halaman
Daun kalender menunjuk angka 25 September 2008. Di bioskop terlihat berderet antrean panjang pengunjung di depan loket bak antrean BBM di SPBU menjelang kenaikan harga. Karcis laris manis bagai kacang goreng. Kursi bioskop terisi penuh. Pemutaran perdana Film Laskar Pelangi meledak. Ratusan orang tidak mau melewatkan film yang dibesut oleh Riri Reza dan Mira Lesmana tersebut. Apresiasi publik cukup menggembirakan karena disuguhkan tema kemiskinan, pendidikan, cinta-kasih, dan kesetiakawanan yang mengharu biru.
Novel pembangun semangat karya pegawai Telkom tersebut, telah membuat sejarah di dalam dunia pustaka di Indonesia. Di sini, Asrosi S. Karni, hadir dengan bukunya “Laskar Pelangi: The Phenomenon”. Yang ditulis wartawan di Majalah Gatra itu amat menarik, berisi kisah-kisah mereka yang terbuai novel Laskar Pelangi. Dedikasi Bu Mus (panggilan Ibu Muslimah) di novel Laskar Pelangi menjadi role mode bagi sejumlah perempuan. Contoh, Rika Adriana, seorang gadis kelahiran 1983 asal Pontianak ini. Kisah jenaka anak-anak Laskar Pelangi, daya tarik sosial pendidikan Bu Mus, dan eksotika Pulau Belitong, bikin Rika susah tidur. Pikirannya kian berkecambuk untuk bisa merambahi pulau yang menjadi setting dalam novel.
Sindrom akibat baca tetralogi Laskar Pelangi akhirnya mengantarkan Rika menjalani petualangan menjelajahi saban jengkal wilayah seperti yang ditulis Andrea. Bermodal jual komputer, Rika berangkat penuh semangat. Bermacam pengalaman penuh makna ia dapatkan. Mulai jadwal kapal yang molor sekian jam yang bikin kesal, mendorong angkot, ditangkap polisi karena naik tower, sampai menginap di rumah Bu Mus yang baginya bagaikan mimpi.
Gila
Cerita tak kalah seru yang diulas Asrosi adalah sepasang anak muda merajut cinta gara-gara novel Edensor. Mereka bernama Mega Hutagama dan Teguh Oktavianto. Pertemuan kali pertama di gerbong kereta api jurusan Surabaya-Malang. Mega yang seorang mahasiswi Universitas Brawijaya tersebut memberanikan diri berkenalan dengan Teguh ketika di dalam gerbong, karena melihat Teguh sedang asyik membaca Edensor. Mega memang sejak awal sudah terlanjur “gila” sama Laskar Pelangi, maka Mega tak bisa menahan diri untuk mengobrol lebih jauh tentang novel karangan anak Belitong itu. Selepas obrolon ini, komunikasi pun berlanjut dan Teguh menyatakan keseriusannya menjalin hubungan. Mega tak langsung mengangguk setuju, ada syarat yang mesti Teguh penuhi, yaitu di balik sampul belakang buku Edensor harus ada tanda tangan Andrea.
Demi cinta, tantangan dilakoni. Teguh terus memantau jadwal Andrea lewat internet. Tibalah waktu saat Andrea berjumpa fans di Surabaya, secepatnya kesempatan ini tak dibuang Teguh. Meski berdesak-desakan dan nafas ngos-ngosan, ia akhirnya mendapatkan tanda tangan seperti apa yang diharapkan calon kekasih. Di sini, inspirasi kunci yang ditulis Asrori ialah sastra mampu menstimulasi benih asmara dan kemauan kuat mencapai target.
Laskar Pelangi bertutur tentang petualangan sepuluh anak kampung Melayu Belitong yang hidup dalam kemelaratan. Mereka secara tidak disengaja dipersatukan manakala sama-sama memasuki bangku sekolah di kampungnya. Keragaman karakter Laskar Pelangi yang terjaga kekonsistenannya hingga akhir cerita membuat alur cerita dalam novel ini kian menantang. Dari semua tokoh Laskar Pelangi yang menjadi inspirasi Nico, yakni Lintang si super jenius. Nico adalah mahasiswa pecandu narkoba yang terkenal keras kepala sehingga membuat orangtuanya putus asa. Suatu hari, ia menangis sesenggukan dalam kamar. Setelah dintip orangtuanya, ternyata Nico sedang membaca Laskar Pelangi. Selepas membaca, Nico sadar, merasa malu pada Lintang yang terpaksa berhenti sekolah karena ayahnya meninggal dan kurang biaya. Berkat novel Laskar Pelangi, Winarti, orangtua Nico mengucapkan terima kasih kepada Andrea dalam progam Kick Andy, yang merasa anaknya terselamatkan dari bahaya narkoba atas jasa Andrea.
Memikat
Memang, keseluruhan kisah Laskar Pelangi tersaji dengan sangat memikat. Pembaca akan dibuat tercenung, menangis dan tertawa bersama kepolosan dan semangat juang para Laskar Pelangi. Logis, bila saban Andrea mengisi seminar, pasti ribuan pembaca tetralogi Laskar Pelangi antre berjam-jam untuk mendapatkan tanda tangan atau foto bersamanya. Tak hanya di Indonesia, di Malaysia saat Andrea menghadiri acara pameran buku antarbangsa, warga Singapura rela menyeberangi Malaysia untuk menyaksikan Andrea.
Sementara di dunia akademik, ada sekitar 12 skripsi dan tesis mengkaji novel best seller ini. Selain kehadiran novel mencengangkan, tapi kesuksesan penjualan novel juga mampu merontokkan mitos “kutukan tiga ribu”, yaitu buku sastra susah menembus penjualan tiga ribu eksemplar selama setahun. Novel itu membuat Andrea berkantong tebal, meraub royalti Rp 2 miliar lebih.
Dalam acara Kick Andy beberapa pekan lalu, Asrosi mengaku dalam membuat buku ini memerlukan waktu tiga bulan untuk riset lapangan dan wawancara mendalam Andrea. Isi buku lumayan padat dan enak dibaca. Sari-sari novel Laskar Pelangi yang tersampaikan di sini layak dibaca oleh mereka yang merasa termaginalkan, tidak punya spirit maju, atau diderap kemiskinan yang berjuang untuk lewat pendidikan.
Dimuat Suara Merdeka, 12 Oktober 2008
Satire Politik Indonesia
Judul : Dari Kamp ke Kamp (Cerita Seorang Perempuan)
Penulis : Mia Bustam
Penerbit : Spasi dan VHR Book
Tahun : 2008
Tebal : xiv+273 Halaman
Pengakuan lugas dituturkan Mia Bustam ketika memberi jawaban mengenai PKI pada seorang psikolog dalam tahanan. Mia Bustami menuturkan: “Saya bukan anggota PKI, Nak Hardjono. Saya hanya anggota Lekra.” “Tapi Lekra toh berafiliasi dengan PKI?” Mia menjelaskan: “Saya di situ hanya agar bisa bergaul dengan seniman, dan menambah pengetahuan saya mengenai seni dan sastra.”
Jawaban itu tidak mengesankan muatan ideologis atau politis tapi pamrih untuk pengetahuan dan seni. Mia adalah sosok seniman. Keterlibatan dan peran dalam Lekra mengantarkan dirinya pada tuduhan-tuduhan subversif. Tuduhan itu melahirkan keputusan dalam bentuk penahanan tanpa pengadilan. Mia pun mendapat cap sebagai PKI. Cap itu selalu mendapat sangkalan karena Lekra dan PKI beda.
Mia mengisahkan fragmen-fragmen hidup sebagai istri pelukis Sudjojono, keterlibatan di Lekra, dan penahanan di pelbagai tempat dalam buku memoar Dari Kamp ke Kamp (Cerita Seorang Perempuan). Memoar itu cenderung sebagai kisah hidup dalam rentetan tragedi tapi dilakoni dengan percampuran keluguan dan resistensi. Mia memiliki strategi pengisahan yang humanis tanpa terbebani oleh tendensi-tendensi politis. Strategi teks itu membuat memoar ini menjadi terasa intim dan mengandung otentisitas ketimbang dengan buku-buku memoar lain yang cenderung politis dan emosional.
Buku ini memiliki alur runtut meski dengan patahan-patahan kecil karena kelemahan (keraguan) pengarang pada ingatan atas peristiwa-peristiwa tertentu. Kisah penting tejadi ketika Mia terlibat di SIM (Seniman Indonesia Muda) dalam kerja kreatif dan pameran lukisan. Kesibukan itu mengantarkan Mia pada interaksi dengan pelbagai orang dan institusi. Interaksi itu menentukan keterlibatan dalam Lekra. Pengesahan Mia sebagai anggota Lekra terjadi pada akhir 1959 dalam Kongres Lekra I di Solo. Peran semula adalah sebagai peninjau atas sesuai dengan isi undangan dari Nyoto. Peran itu praktis berubah dengan pengiriman surat dari Joebar Ajoeb yang memberitahukan bahwa pimpinan Lekra mencatat Mia sebagai anggota Lekra.
Buku memoar Mia mengesankan kisah-kisah dalam tipologi kelumrahan dan kenaifan orang-orang biasa. Biografi Mia menyisakan sebuah mimpi yang kandas. Mia ingin memiliki padepokan dengan konsep untuk belajar seni dan hidup dalam kolektivitas dan kemandirian. Mimpi itu mengacu pada sebuah buku mengenai usaha Makarenko di Uni Sovyet. Mimpi Mia kandas karena kurang dukungan dari teman-teman. Mimpi itu menunjukkan pandangan humanis dari Mia untuk sadar atas laku keratif dan realitas hidup.
Kisah mengesankan terjadi pada tahuh 1964 dalam Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner di Jakarta. Mia merasakan ada interaksi konstruktif untuk menambah pengetahuan tentang seni dan sastra. Mia ketika itu juga mengunjungi Gedung CC-PKI yang dalam proses perampungan. Mia usul pada Nyoto agar di dinding gedung dipasangi potret-potret tokoh-tokoh: Semaun, Alimin, Marx, Engels, Lenin, dan lain-lain. Usulan itu disepakati dan mulailah Mia melakoni laku kreatif melukis tokoh-tokoh. Nasib apes dialami Mia karena lukisan-lukisan yang sudah jadi tak mungkin lagi dipasang karena Gedung CC-PKI dibakar massa dalam Peristiwa 1965. Kisah itu memang mengandung ambivalensi antara urusan politik dan seni. Mia cenderung menilai itu sebagai laku seni karena sadar atas peran dan kompetensi.
Peristiwa 1965 membuat Mia terseret dalam operasi pembersihan oknum-oknum PKI. Mia masuk penjara dengan tuduhan-tuduhan: (1) dianggap mengikuti latihan di Lubang Buaya; (2) melindungi dan memberi tempat persembunyian pada oknum-oknum PKI; dan (3) mengadakan rapat-rapat gelap dengan oknum-oknum PKI. Mia menyangkal tuduhan-tuduhan itu dengan argumentasi-argumentasi lugas. Tuduhan-tuduhan itu tidak mengandung kebenaran tapi Mia tetap harus masuk tahanan.
Tuduhan PKI untuk menjebloskan Mia ke penjara adalah rekayasa politik. Hal itu diakui Mia ketika melakukan dialog dengan Romo de Blot. Romo menanyakan: “Tidakkah engkau menyesal menjadi anggota PKI?” Mia menjawab dengan eksplisit: “Saya tidak pernah menjadi anggota PKI, Romo. Saya pun tidak menyesal karena tidak pernah melakukan hal-hal yang patut disesali.” Romo melanjutkan: “Jadi kau tidak merasa bersalah?” Mia dengan lugas menjawab: “Tidak Romo, karena saya memang tidak bersalah.” Jawaban-jawaban Mia dalam dialog itu merupakan penegasan bahwa menjadi anggota Lekra tidak harus praktis sebagai PKI. Mia mengurusi seni bukan politik. Hal-hal itu mesti jadi kesadaran kritis terhadap stigmatisasi Lekra. Mia ingin melawan distorsi Peristiwa 1965.
Pengalaman sebagai tahanan politik dari 23 November 1965 sampai 27 Juli 1978 di pelbagai tempat (Polres Sleman, Benteng Vredeburg, Penjara Wirogunan, Penjara Perempuan Bulu, Instalasi Rehabilitasi Plantungan) justru menjadi pengalaman pelangi dengan kisah orang-orang biasa dari teman-teman Mia. Kisah-kisah itu mengandung elan vital dalam kondisi represi dan teror. Mia dalam memoar itu tak sekadar mengisahkan diri sebagai pusat cerita tapi juga memberi jatah besar untuk kisah-kisah para teman dan orang lain. Buku memoar ini pun menjadi kisah humanis dengan percampuran tragedi dan komedi.
Mia pada suatu saat mendapatkan pertanyaan mengenai kontribusi apa yang bisa dilakukan pada bangsa dan negara ketika sudah bebas. Pertanyaan itu adalah buntut dari penataran P-4 dan indoktrinasi dengan embel-embel Santiaji Pancasila. Mia menjawab: Aku ingin menerjemahkan karya-karya sastra Barat yang bermutu ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh mereka yang tidak paham bahasa asing. Keinginan Mia itu mesti berhadapan dengan risiko dalam bentuk pelarangan atau nama penerjemah disamarkan oleh penerbit. Peristiwa 1965 telah membuat rezim Orde Baru mengalami ketakutan akut. Buku-buku pun bisa jadi musuh atau momok subversif yang harus lekas dimusnahkan.
Mia pada 27 Juli 1978 mendapatkan kebebasan. Mia merayakan kebebasan dengan satire: “BEBAS! Dengan menyandang bahaya laten pula.” Satire itu muncul karena ada embel-embel eks-tapol PKI atau pencantuman tanda ET pada KTP. Kebebasan itu adalah satire. Buku memoar Mia adalah representasi satire politik Indonesia. Begitu.
Dimuat di Seputar Indonesia (12 Oktober 2oo8)
Kamis, 25 September 2008
Merayakan Semiotik dan Menafsirkan Budaya
Judul : Semiotika Budaya dan Dinamika Sosial Budaya
Penulis : Benny Hoedoro Hoed
Penerbit : Komunitas Bambu dan FIB UI
Terbit : 2008
Tebal : xv+172 halaman
Benny Hoedoro Hoed adalah sosok penting dalam dunia intelektual Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan penerbitan buku Meretas Ranah: Bahasa, Semiotika, dan Budaya (2001) yang menghimpun 25 tulisan dari sekian penulis dengan pelbagai disiplin ilmu sebagai persembahan pada Benny Hoedoro Hoed ketika pensiun dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Abdullah Dahana dalam kata pengantar buku itu mengingatkan suatu pameo: old scholar never dies. Pameo itu dimaksudkan agar Benny Hoedoro Hoed yang memasuki masa pensiun tidak mengartikannya sebagai akhir untuk pengabdian dalam dunia intelektual di Indonesia.
Pameo itu dibuktikan oleh Benny Hoedoro Hoed dengan penerbitan buku Semiotika Budaya dan Dinamika Sosial Budaya. Buku ini membuktikan intensitas Benny Hoedoro Hoed untuk membaca dan menulis mengenai semiotik dalam perspektif teoritis dan terapan. Semiotik bagi Benny Hoedoro Hoed menjadi suatu pendekatan dalam menganalisis pelbagai persoalan dan fakta-fakta perubahan sosial dan kebudayaan. Kehadiran buku ini membuktikan bahwa semiotik sampai hari belum kehilangan aura karena sekian orang masih mengakui relevansinya dalam pelbagai studi sosial, sastra, politik, dan lain-lain. Sekian intelektual Indonesia masih intens untuk melakukan kajian mengenai semiotik: Faruk HT, Kris Budiman, Tommy Christomy, Yasraf Amir Piliang, Manneke Budiman, Benny Hoedoro Hoed, dan lain-lain.
Benny Hoedoro Hoed dalam Bagian I (Kajian Budaya dalam Teori) memberi pembukaan dengan pendefinisan semiotik sebagai ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia. Semua yang hadir dalam kehidupan ini bisa dilihat sebagai tanda dan menjadi sesuatu yang harus diberi makna. Definisi itu mulai dicarikan acuan pada pemikiran Ferdinand de Saussure (1916) yang melihat tanda sebagai pertemuan antara bentuk dan makna. Penjelasan lanjutan atas pemikiran itu dilakukan oleh Roland Barthes yang melihat tanda sebagai sesuatu yang menstruktur dan terstruktur dalam kognisi manusia.
Sosok lain yang penting dalam semiotik adalah Charles Sanders Pierce (1931-1958) yang melihat tanda sebagai sesuatu yang mewakili sesuatu. Penjelasan lanjutan dari pemikiran Charles Sanders Pierce itu dilakukan oleh Danesi dan Perron yang menyebutkan bahwa manusia sebagai homo culturalis. Definisi dari sebutan itu adalah manusia sebagai makhluk yang selalu ingin memahami makna dari apa yang diketemukannya (meaning-seeking creature).
Definisi-definisi itu menjadi basis dalam pembahasan semiotik oleh Benny Hoedoro Hoed tanpa harus lekas membuat vonis bahwa semiotik itu ilmu atau bukan ilmu. Penundaan dan penghindaran vonis itu dilakukan dengan membahas perbandingan pemikiran semiotik dari Roland Barthes dan Jacques Derrida. Dua tokoh ini merupakan keturunan strukturalisme Ferdinand de Saussure dengan pemaknaan yang dinamis. Pemaknaan yang dikembangkan Barthes dan Derrida memiliki arah dan konsentrasi berbeda. Barthes cenderung mengembangkan semiotik sebagai teori dan proses konotasi yang dimiliki masyarakat budaya tertentu. Derrida justru mengembangkan semiotik dalam ranah teks bahwa tanda yang terabadikan dalam tulisan terbebas dari kungkungan manusia.
Pembahasan komparatif dilakukan Benny Hoedoro Hoed dalam perspektif semiotik pragmatis Charles Sanders Pierce yang menemukan lanjutan pada pemikiran Danesi dan Peron. Pemikiran semiotik yang mensitesiskan semiotik struktural dan semiotik pragmatis dilakukan oleh Umberto Eco. Pemikiran semiotik Eco itu dikenal sebagai semiotik komunikasi (melihat tanda sebagai alat untuk berkomunikasi yang melibatkan pengirim dan penerima tanda) dan semiotik signifikan (memfokuskan perhatian pada produksi tandanya sendiri).
Bab 2 dalam buku ini memberi penjelasan mengenai dasar teori dan perkembangan strukturalisme, pragmatik, dan semiotik. Pembahasan dalam bab ini menguraikan kembali pemikiran-pemikiran Ferdinand de Saussure dan penjelasan tambahan mengenai pengembangan yang dilakukan oleh Jean Piaget, Roland Barthes, Jacques Derrida, Michel Foucault, Roman Jakobson, Umberto Eco, dan lain-lain. Penjelasan dari pemikiran-pemikiran sekian tokoh itu menjadi acuan penting untuk terapan semiotik dalam studi dan tafsir kebudayaan yang didedahkan Benny Hoedoro Hoed.
Pembahasan pada Bab 3 dan Bab 4 terkesan teoretis dan rumit karena Benny Hoedoro Hoed menunjukkan perspektif ketat. Bab 3 merupakan analisis perbandingan antara pemkiran Derrida dengan strukturalisme Ferdinand de Saussure dalam perspektif linguistik. Bab ini menunjukkan kompetensi dan otoritas Benny Hoedoro Hoed yang telah mengalami pergulatan panjang dan intensif dalam studi semiotik. Bab 4 mulai ditunjukkan pembahasan teoritis dan contoh terapan mengenai bahasa dan sastra dalam perspektif semiotik dan hermeneutik.
Bagian II dalam buku ini (Kajian Budaya dalam Dinamika Masyarakat) merupakan kompilasi tulisan dengan hubungan renggang. Bagian II ini seakan terpisah dengan Bagian I dalam pembahasan teori dan terapan semiotik. Pengecualian terasa pada tulisan “Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini “ dan “Tubuh dan Busana Ditinjau dari Kacamata Semiotik” yang kentara melakukan penerapan analisis semiotik. Bab-bab lain “Dekonstruksi, Globalisasi, dan Kreativitas”, “Transformasi Budaya di Perdesaan”, “Etika dan Ekonomi Kehidupan Modern” merupakan representasi dari keluasan perhatian dan kajian Benny Hoedoro Hoed terhadap pelbagai perubahan sosial dan kebudayaan.
Kehadiran buku ini merupakan pembuktian antusiasme intelektual dari Benny Hoedoro Hoed pada usia tua untuk memberi kontribusi dalam kahzanah studi semiotik dan kebudayaan di Indonesia. Haryatmoko dalam “Prakata” menilai bahwa kunci keberhasilan Benny Hoedoro Hoed dalam membuat paparan dan analisis yang komprehensif mencakup tiga hal: (1) penguasaan linguistik dan familiaritasnya dengan mentalitas pemikiran Prancis; (2) kemampuan penulis untuk memberikan contoh-contoh relevan untuk membantu menyederhanakan konsep-konsep pelik ke model-model skematis yang memberi pola pemikiran; dan (3) kemampuan penulis menerapkan dan mengembangkan pelbagai teori dalam analisis budaya dan politik.
Penilaian itu memberi klaim bahwa buku Semiotika Budaya dan Dinamika Sosial Budaya patut mendapat perhatian dan menjadi buku acuan untuk para peneliti dalam studi semiotik dan kebudayaan. Kehadiran buku ini hendak mengabarkan bahwa semiotik merupakan sesuatu yang tetap relevan dan penting dalam wacana intelektual hari ini di Indonesia. Benny Hoedoro Hoed mengingatkan: “Semiotik memberikan kemungkinan kepada kita untuk berpikir kritis dan memahami bahwa tidak ada satu otoritas yang berwenang memberikan makna atau penafsiran atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sosial budaya kita.” Begitu.
Dimuat di Suara Pembaruan (21 September 2oo8)
Selasa, 02 September 2008
Pram: “Penantang Abadi”
Judul : Saya ingin Lihat Semua Ini Berakhir: Esai
dan Wawancara dengan Pramodeya Ananta Toer
Pengarang : August Hans den Boef dan Kees Snoek
Penerjemah : Koesalah Subagyo Toer dan Kees Snoek
Penerbit : Komunitas Bambu
Terbit : 2008
Tebal : x+176 halaman
Buku Saya ingin Lihat Semua Ini Berakhir menjadi pengulangan dari pembicaraan mengenai biografi dan teks-teks sastra Pramoedya Ananta Toer. August Hans den Boef dan Kees Snoek menjadi juru bicara Pram dalam suatu pesona biografi kesusastraan dan politik. Pesona itu justru membuat buku ini kurang memberikan sesuatu yang lain (greget) untuk pembaca.
August Hans den Boef mengungkapkan kisah di balik publikasi esainya dengan dramatis: “Ketika saya mendengar dari Kees Snoek bahwa Pramoedya meninggal dunia, maka saya pun sibuk mencari sigaret kretek di Amsterdam, tetapi baru di Den Hag saya menemukannya. Sambil menikmati sigaret kretek itu, saya mulai mengaktualkan esai yang versi aslinya saya tulis tahun 1992”. Kisah itu hendak memberi penguatan bahwa esai yang ditulis August Hans den Boef memiliki nilai lain karena peristiwa kematian Pram dan peniruan laku merokok sigaret kretek seperti kebiasaan Pram untuk mencari dan menemukan efek tertentu.
Pengalaman unik muncul dari laku August Hans den Boef yang mengaku merasakan kesenangan ketika membaca kembali novel dan cerpen Pramoedya. Kesenangan itu menular dalam esainya yang membahas sekian buku Pramoedya dengan suatu kesadaran bahwa “saya bukan pembaca Indonesia”. Kesadaran itu mengesankan bahwa pembacaannya berbeda dengan pembacaan yang dilakukan oleh orang Indonesia, Amerika, Australia, Jerman, atau Perancis. Perbedaan itu karena faktor bahasa, kultural, politik, ideologi, atau sistem sastra.
August Hans den Boef percaya bahwa dalam membaca dan menilai buku-buku Pram tentu melibatkan kecenderungan dua faktor: politik dan teknik sastra. Kecenderungan itu ingin dikritisi dalam batas tertentu dengan pembuktian sebuah esai panjang yang masih menunjukkan pembacaan dalam kecenderungan politik dan teknik sastra. Esai August den Boef menghadirkan biografi Pram dalam politik dan sastra secara kronologis. Pembicaraan itu dikuatkan dengan penilaian terhadap buku-buku Pram yang erat mengungkapkan biografi Pram dan biografi Indonesia. Pembabakan biografi dan tulisan-tulisan Pram dalam esai itu kentara hendak mengesankan suatu pembacaan komprehensif dengan deskrispi dan analisis mumpuni.
Penempatan esai August Hans den Boef Penulis Kronik Rakyat Kecil – Tentang Karya Pramoedya Ananta Toer pada bagian pertama memang layak dengan konsekuensi terjadi pengulangan pada bagian kedua dalam tulisan Kees Snoek mengenai wawancara dengan Pram Satu-satunya Harapan Saya adalah Ingin Menyaksikan Akhir Semua ini. Tulisan Kees Snoek pun kentara mengandung pesona terhadap biografi politik dan sastra Pramoedya. Pertanyaan-pertanyaan untuk Pram memakai teknik yang hati-hati dengan pertimbangan menghindari sensitivitas dan sikap reaksioner terhadap tema-tema biografi dan politik. Teknik itu justru mengurangi eksplorasi atas kemungkinan menemukan informasi baru atau perubahan pemikiran Pram atas hal-hal tertentu. Hal itu membuat hasil wawancara Kees Snoek mirip dengan publikasi wawancara-wawancara yang dilakukan orang lain. Barangkali hal itu terjadi karena keterlambatan penerbitan dalam edisi bahasa Indonesia. Penerbitan buku ini dalam edisi Belanda pada tahun 1990.
Kisah di balik penulisan dan publikasi wawancara dari Kees Snoek pun mirip dengan kisah August Hans den Boef. Kees Snoek mengaku: “Sekarang Pramoedya telah tiada, waktunya sudah tepat untuk publikasi baru dari wawancara tersebut.” Pengakuan itu mengesankan suatu kepentingan momentum suatu publikasi tulisan untuk menemukan kesesuaian atau efek tertentu. Pengakuan Kees Snoek yang lain: “Beberapa bagian wawancara yang pada terbitan pertama, dalam bahasa Belanda, dihilangkan sepertinya sekarang telah ‘memenangkan kepentingannya’ sehingga akhirnya bagian-bagian tersebut masih diperlihatkan kepada pembaca”. Pengakuan itu kurang menjadi kejutan lagi karena pada tahun-tahun lalu telah terbit sekian buku dan publikasi esai dengan motif yang mirip.
J.J. Rizal (2008) menulis bahwa Pram adalah pengarang yang “terbakar pesona revolusi”. Hal itu berlaku pada August Hans den Boef dan Kees Snoek yang menulis dengan tendensi “terbakar pesona Pram”. Pesona itu dikuatkan dengan pengakuan dua penulis dalam kata pengantar bahwa Pram adalah “wajah berbeda dari Indonesia”. Pesona itu justru membuat tulisan August Hans den Boef dan Kees Snoek kurang mengandung greget. Pesona itu lumrah karena kebesaran tokoh Pram dan perspektif orang Belanda terhadap seorang Indonesia yang memiliki biografi kontroversial dalam sastra dan politik. Biografi kontroversial itu mungkin menjadi alasan penting untuk pesona dan kelahiran suatu tulisan dari pembaca-pembaca Belanda.
Tulisan August Hans den Boef dan Kees Snoek menjadi juru bicara ampuh untuk pengisahan bahwa selama ini Pram adalah korban dari kepentingan kekuasaan Belanda, Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru. Posisi sebagai korban itu adalah pembenaran untuk perlawanan dan bantahan dengan perspektif Pram dalam pelbagai kasus dan peristiwa masa lalu. Perspektif Pram itu justru membuat kontroversi terus bersambung dan meminta perhatian untuk percaya dan memihak perspektif dari Pram atau orang lain.
Pram dalam buku ini adalah sosok yang dimenangkan dengan pencapaian tertentu untuk sastra di dunia internasional dan revisi terhadap biografi politik. Kemenangan Pram dari kekalahan-kekalahan tentu memberi konklusi atas optimisme dan pembuktian kebenaran atau keadilan dalam konteks sejarah kekuasaan dan kesusastraan. Perkara kemenangan itu berbeda dengan pandangan Ignas Kleden (1999) mengenai biografi Pram dan tokoh-tokoh dalam teks sastra Pram: “Tokoh-tokoh Pramoedya memang kalah dilanda sejarahnya, tapi sekaligus juga sanggup mengalahkan kekalahannya sendiri dengan mengatasi baik ketakutan maupun kesombongan untuk tidak menang.” Penilaian dari Ignas Kelden itu sopan ketimbang perspektif August Hans den Boef dan Kees Snoek.
Kehadiran buku Saya ingin Lihat Semua Ini Berakhir memberi kontribusi untuk kepustakaan mengenai Pram. Buku ini mengandung harapan untuk bisa memberikan perspektif yang tendensius terhadap Pram tapi kurang kritis dan argumentatif. Harapan dari penulis dalam buku ini ingin mirip dengan pengakuan Pram: “Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani”.
Membaca Pramoedya Ananta Toer adalah membaca pokok dan tokoh yang tak sepi dari kontroversi dan polemik. Goenawan Mohamad (2005) bahkan menyebut Pram sebaga “penantang abadi”. Pramoedya Ananta Toer adalah simbol perbenturan dan pertautan antara ide dan kekuasaan. Selamat membaca dan menilai dengan sekian perspektif dan kritik. Begitu.
Dimuat di Lampung Post (24 Agustus 2008)
Selasa, 05 Agustus 2008
Belajar Kearifan Sejarah Kota Solo
Oleh: Heri Priyatmoko
Judul Buku : 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit
Penulis : Sholahuddin dkk
Penerbit : Harian Umum SOLOPOS
Edisi : Pertama, Mei 2008
Tebal : viii + 104 halaman
Kepulan asap hitam menyelimuti ruang kota. Si jago merah melalap puluhan bangunan kokoh pusat perbelanjaan. Pemilik toko panik histeris. Mereka tak bisa menyelamatkan harta benda, justru yang “menyelamatkan” adalah penjarah. Bunyi sirine kendaraan militer meraung-raung menghalau perusuh. Suasana benar-benar mencekam. Sementara warga kampung berwajah tegang berjaga-jaga di mulut gang. Itulah panorama sekilas apa yang terjadi di Solo 10 tahun silam. Tepatnya, 14 Mei 1998.
Selanjutnya, insiden “Mei Kelabu” menggugah para akademisi keluar dari kandangnya. Hasil sorotan historis oleh sejarawan sohor Solo, Soedarmono bersama rekannya antara lain, “Runtuhnya Kekuasaan Kraton Alit” (1999), “Perilaku Radikal Di Kota Solo” (2004), dan “Sejarah dan Morfologi Kota Konflik Solo” (2004). Adalah sebuah kesimpulan mengemparkan masyarakat, kota ini lahir sebagai kota konflik! Benarkah?
Fakta sejarah dipampang dan diurai. Tarikan sejarah yang cukup berani, Soedarmono memaparkan fenomena konflik dari sejak jaman “geger pecinan” atau robohnya Keraton Kartasura hingga peristiwa “Mei Kelabu”. Tercatat puluhan kali konflik melanda Kota Bengawan. Proses sejarah kerusuhan yang senantiasa berulang, histoire se repete, kata sejarawan Prancis. Itu kiranya dasar argumentasi Soedarmono di setiap diskusi membedah fenomena “lokal genius” Solo. Warga membakar kotanya dan bersiklus limabelas tahunan, tandasnya. Tesis ini banyak membuat kaum intelek lain sewot, tanda tak setuju. Ada gerangan apakah dosen sejarah UNS ini (maaf) membubuhkan semacam cap bagi kota kelahirannya sendiri? Tampaknya publik mesti jembar dalam menikmati buah kupasan pisau sejarah beliau. Ada pesan teramat dalam bahwa kita sebagai masyarakat Solo harus menghargai dan belajar dari kearifan sejarah. Hanya itu saja mungkin Soedarmono mengingatkan publik Solo.
Datang di sini, tim Solopos yang dimotori Sholahuddin dengan bukunya yang menantang, “10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit”. Berarti ini buku yang kedua, karena Solopos telah melahirkan buku pendahulunya, “Rekaman Lensa Peristiwa Mei 1998 Di Solo”. Buku terbagi 8 bab. Sebagai prolog, MT Arifin menuliskan “Mencermati perjalanan perubahan nasional: Agenda reformasi yang gamang”. Tersaji dalam bab seputar sebab musabab kemunculan reformasi yang akhirnya menjadi peluru guna menjatuhkan Presiden Soeharto dari takhta selama 32 tahun. Kegelisahan MT Arifin terasa manakala ia mengatakan visi reformasi tereduksi. Pasca tergulingnya Soeharto justru timbul berbagai paradoks yang tidak sejalan apa yang diteriakkan mahasiswa, salah satunya KKN di legislatif.
Wajah keprihatinan anak kampus yang bermuara pada kemarahan atas sebuah orde otoriter tergambar dalam Bab II, “Geliat aksi mahasiswa”. Mahasiswa Solo tak mau ketinggalan memacu gerak reformasi di Bumi Pertiwi. Dies Natalis UNS ke-12 tidak dimeriahkan oleh seminar dan aneka lomba saja, tapi diwarnai bentrokan mahasiswa melawan aparat keamanan. Selain UNS, ratusan sampai ribuan mahasiswa bergabung dari Unisri, UTP, USB, STIES, STSI, STAIN dan universitas lainnya yang ada di Solo, turun jalan menggelar aksi demo. Betrokan terulang dan menelan banyak korban cidera hingga mendapatkan perawatan di RSUD Dr. Moewardi.
Tak mengelak dan wajib termangut setuju, kerusuhan Mei melumpuhkan total titik perekonomian kota. Sirkulasi duit macet, akibat nihilnya transaksi jual-beli. Pekerja dirumahkan karena pabrik dan pertokoan belum beroperasi. Yang paling dirugikan ialah Matahari Departement Store (MDS). Tiga gerai MDS, masing-masing Perbelanjaan Beteng, Plasa Singasaren dan SE Purwosari, ludes dijarah dan dibakar massa. Lalu, bagaimana dengan kondisi ekonomi Solo bubar bakar-bakaran? Oleh Solopos, bab V dibahas bagaimana Solo bangkit dari keterpurukan. Jarak yang direntang Solopos yaitu perjalanan kurun waktu 10 tahun pasca kerusuhan. Denyut nadi kota kembali terasa. Contoh konkrit, apartemen mulai dibangun dan mal menjamur. Akuntan Publik Rachmad Wahyudi dan data laporan Bank Indonesia membenarkan. Salah satu indikatornya adalah laju pertumbuhan ekonomi yang positif sejak tahun 2000 hingga 2005. Dari hasil perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pun mengalami kenaikan. Investor ramai masuk Solo.
Diperbincangkan pula kondisi Solo kotemporer dan mendatang dalam bab VI. Bertaburan bangunan anyar di atas bangunan yang dulu terbakar. Namun, bangunan korban amuk massa ada yang mangkrak belum dibangun. Seperti, SE Purwosari yang dalam perencanaannya bakal digunakan untuk Solo Center Point (SCP) berupa apartemen 23 lantai plus pusat perbelanjaan.
Kini, walau peristiwa amuk massa 14-15 Mei 1998 berlalu sudah, tetapi trauma atas kejadian pahit itu masih dirasakan oleh masyarakat, terutama etnis China. “Sehabis Reformasi, saya trauma melihat bakar-bakaran. Saya lihat rumah di depan saya apinya bulat-bulat. Barang-barang yang ada dirumah saya juga dijarah. Tak berapa lama, saya pasang hidran di depan rumah sebagai antisipasi kalau ada bakar-bakaran lagi”, ujar Sumartono, warga keturunan etnis Tionghoa (hal 93). Memang bisa dipermaklum, manusia sangat berat berjuang untuk melupakan suatu insiden yang menyangkut keselamatan nyawanya.
Sebagai epilog judul bab yang diangkat sangat tepat, “Koreksi diri”. Bahan bab ini, litbang Solopos melakukan jajak pendapat dengan materi meliputi kondisi ekonomi dan politik Kota Solo serta harapan apakah reformasi masih menjanjikan harapan atau tidak. Di mata sebagian besar responden, tak banyak berharap reformasi menjanjikan.
Buku tersebut dokumentasi berharga atas tapak sejarah Solo menyambut kedatangan “tamu” reformasi yang tragik. Foto-foto di dalam buku selain menjembatani pembaca berwisata sejarah “solo membara”, namun juga sengaja dipasang Solopos sebagai wahana perenungan. Sekali lagi, cap negatif Solo kota konflik dan bersumbu pendek akan runtuh seandainya kita bersama mampu intropeksi. Buku ini benar-benar mengajak mengarifi sejarah. Manusia tanpa sejarah ibarat tentara tanpa senjata, dokter tanpa obat, petani tanpa benih, atau tukang tanpa alat. Sebuah buku yang berguna merapatkan manusia bersama sejarahnya sendiri, meski sejarah itu sirna ditelan waktu 10 tahun yang lampau.
Senin, 28 Juli 2008
Onghokham dalam kenangan
Oleh: Heri Priyatmoko
Judul : Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan
Penyunting : David Reeve et. al
Penerbit : Komunitas Bambu
Terbit : Pertama, Desember 2007
Tebal : xvi + 358
Sejarawan di Indonesia yang kali pertama mempelopori penulisan persoalan sejarah di media adalah Ong Hok Ham atau Onghokham (1 Mei 1933-30 Agustus 2007). Kliping tulisannya di Majalah Tempo (1976-2001) sudah diterbitkan dengan judul “Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang” merupakan fakta konsistensi Ong di dunia tulis-menulis. Begitu juga dengan karyanya, “Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong”.
Ia juga salah satu sejarawan yang berani mengkritik penguasa Orde Baru yang otoriter dan militeristik, meski lewat opini yang disamarkan dengan mengambil peristiwa sejarah periode kolonial. Keberanian Ong diakui sejarawan lain dan para sahabatnya. Lain halnya dengan mendiang Prof. Sartono Kartodirjo, Begawan Sejarah Indonesia. Ketidaksenangan dengan penguasa lebih diperlihatkan pada upaya diam, tanpa reaksi keras. Contoh, beliau undur diri dari tim penulisan Sejarah Nasional Indonesia edisi terakhir.
Mungkin sudah menjadi semacam “keumuman” di Indonesia, di mana ada tokoh yang mumpuni dan terkenal meninggal dunia, sekadar untuk mencurahkan atawa melampiaskan kenang-kenangan maka dibuatlah buku yang berisi kumpulan tulisan baik dari keluarga, teman atau penggemar. Buku yang berjudul “Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan” ini, merupakan kumpulan artikel dari mantan murid, sahabat, hingga kerabat. Buku yang disunting David Reeve, JJ Rizal dan Wasmi Alhaziri ini diluncurkan berbareng acara 100 hari peringatan meninggalnya Onghokham.
Pilihannya untuk mengucapkan "selamat tinggal" kuliah dan tumpukan teori hukum di Fakultas Hukum di Universitas Indonesia (UI) pada 1955 merupakan kreativitas dan keberanian Onghokham. Padahal saat itu Fakultas Hukum UI menjadi fakultas favorit dan berwibawa. Mungkin karena pada masa itu belum banyak advokat yang terang-terangan bicara soal kejujuran advokat dan pada saat yang sama berani menyuap polisi, jaksa dan hakim seperti saat ini. Ia lebih suka mendalami ilmu di Jurusan Sejarah dan skripsinya lalu dibukukan “Runtuhnya Hindia Belanda”, (Gramedia, 1987). Dan itu menjadi rujukan bagi peminat sejarah Indonesia periode 1930 dan 1940-an.
Berkat kecerdasan dan keseriusan, sejarawan berdarah Tionghoa ini berhasil menyelesaikan gelar doktor di Yale University, Amerika Serikat tahun 1975. Dan tidak ala kadarnya bersekolah, Ong melahirkan disertasi bermutu. Tidak tedeng aling-aling Benyamin White, guru besar pada Institut Studi Sosial, Belanda, memberikan pernyataan tegas, "kalau orang mau belajar sejarah petani Indonesia, dia mutlak harus membaca dua buku, yaitu disertasi Sartono Kartodirdjo, “The Peasant’s Revolt of Banten in 1888” dan Onghokham “The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the 19th Century”. Menurut White, kedudukan Ong sejajar dengan Sartono dalam studi tentang sejarah petani di
Gourmet
Selain pandai mengolah arsip sejarah, ternyata Ong piawai memasak makanan dan seorang gourmet (ahli mencicipi makanan). Untuk kepentingan kuliner, dengan naik bus kota Ong sering keluar-masuk ke pasar. Glodok, Petak Sembilan, Pasar Ikan Muara Karang, Pasar Senen dan Pasar Blok M, tempatnya berbelanja. Ia senantiasa membikin pesta kecil di rumahnya dengan mengundang para artis, kolega, dan muridnya. Dalam hal penampilan, dia low profile. Tetapi untuk acara yang berhubungan dengan urusan perut, Ong tidak mau kalah dengan pejabat, tampil necis memakai jas walau tak diundang. Ada ungkapan, makan untuk hidup, namun oleh Ong dibalik, hidup untuk makan. Sederetan makanan yang tak luput digarap dan dicicipinya antara lain rijstafel, martabak, lumpia-hok-hay, sio bak-Malang, mi jangkrik, dll.
Ketika seminar ingat wisky, di kala ngajar ingat barang belanjaan di pasar, bahkan sewaktu sakitpun ingat barang yang masih di dalam kulkas. Cerita lucu diungkap oleh sahabatnya, AB Lapian (sejarawan maritim). Saat Ong inap di Rumah Sakit Panti Rapih tahun 2001 silam, dia membuat geli penjenguk. Meski divonis dokter gejala stroke, sempat-sempatnya mendiktekan surat wasiat yang ditulis oleh AB Lapian. Kurang lebih isinya, kalau dia betul menerima ajal, maka ikan bandeng di deep freeze untuk si A, dan botol-botol minuman keras untuk si B. Sudah menghadapi maut tapi masih memikirkan isi lemari es dan koleksi alkohol (hal 11).
Dalam buku terbitan Komunitas Bambu tersebut, Onghokham mendapat seperangkat gelar sebagai seorang sejarawan, intelektual publik, koki, penggila pesta, dan antiquarian. Ditemukan ada kekeliruan dalam buku ini. Tidak terteranya nama penulis Goenawan Mohamad di daftar isi. Penulis di kolom Catatan Pinggir Tempo ini menulis dengan judul “Ong” (hal 131-134) dan di daftar isi dicantumkan nama Hamish McDonald, padahal dalam isi asli buku menulis berjudul “Teman Ria” (hal 135-143). Tulisan Goenawan Mohamad diunduh dari Catatan Pinggir Majalah Tempo Edisi 28/XXXIIIIII/03-9 September 2007. Kekeliruan penyunting saat menyatakan ada 52 tulisan dalam buku kenang-kenangan ini, sesungguhnya ada 53 tulisan yang ditulis oleh 54 penulis. Memang dalam mewujudkan buku ini waktunya sangatlah pendek, maka bisa dipermaklum.
Dimuat di Majalah Sinergi (terbitan
Bulan Juli 2008