Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juli 2008

Puisi Bandung Mawardi


Buku, Ibu, Ayah

buku tebal dan rusak

karena rayap dan hujan

kalimat-kalimat salah

terkapar dan telanjang

tanda baca lari mencari ibu

siapa membaca

ketika ayah mati

dalam kamar mandi?

Orang, Maut, Rumah

jalan kecil dan hujan deras

orang-orang berjalan membawa maut

dengan suara keras dan kasar

rumah-rumah tertutup

tak ada rumah

untuk sembunyi dan bicara pelan

Perempuan, Anjing, Kamar

kata pengantar pendek

dari perempuan hamil

untuk anjing kurus di depan pintu

piring dan gelas kotor

di meja dalam kamar pengap

laki-laki tak mau pulang

Kisah, Kata, Nama

kisah di halaman rumah

pertemuan tak biasa

percakapan pendek

perempuan dan laki-laki

dari tiga abad yang lalu

perempuan menangis

minta kata

lelaki marah minta nama

Penyair, Perempuan, Puisi

penyair mati

bunuh diri dalam kata

perempuan pergi

membawa puisi cacat

yang lahir dari marah

Dimuat di Minggu Pagi (6 Juli 2oo8)

Selasa, 06 Mei 2008

Iklan Puisi Edisi 1

Yunanto Sutyastomo

Waktu yang Menunggu

Waktu menungguku mati

Jarak kian dekat

Kita berjalan melewati kelam

Duka-duka kini datang berurutan


Bandung Mawardi


Aku Membenci Prosa

Aku membenci prosa yang lahir dari mulut ayah sebelum mengutuk ibu dan rumah.


Warisan fitnah dari nenek habis untuk menebus malu dan siksaan ketika aku membuat iklan kematian dengan sakit hati.


Prosa itu tidak memiliki konstitusi dan judul yang menyimpan perang dan perih. Prosa yang bebal.


Aku ingat adegan nenek yang bunuh diri karena gagal memasak dongeng hantu dan puisi. Nenek mati.


Ayah takut. Ibu gila. Rumah mati. Aku menulis benci dengan frase-frase yang sakit.


Aku membenci prosa. Aku mau membunuh prosa.



Haris Firdaus


Kalender yang Berbau Darah


Barangkali kita bersemayam dalam kalender

yang terbuat dari pahatan batu-batu,

di mana angka-angka saling bunuh,

dan perasaan membawa payung

karena takut hujan akan datang.


“Di sini, hari libur dan tanggal merah

sudah dihiasi oleh angka-angka yang lain.”


Kita saksikan: manusia membawa batu-batu

sibuk membuat kalender baru

untuk dijual dengan harga tinggi


“Semua kalender itu, pasti berbau darah,”

kataku sambil menarik lenganmu ke sebuah

sudut angka.


Lalu beberapa angka menangis

sambil menurunkan tubuh temannya

ke sebuah waktu yang sangat lampau.


2oo8


Ridho al Qodri


Kisah Pohon

Buat: K


Suatu waktu nanti, pasti kau

akan ingat sajak ini, yang kutulis

sambil kuingat saat-saat kita

berdekatan di sekitar pohon-pohon itu.


Kukira kita tak pernah bisa menerka

mengapa tiap daun tak pernah sama.


Itukah keindahan, pikirku, di mana ujung-

ujung daun yang tenang terlihat berbeda:

ada yang mencuat ke atas, ada yang ke samping,

ada yang saling merapat, ada yang kecil atau lebar,

ada yang meliuk agak rendah.


Itukah keindahan, pikirku, di mana

tiap ranting tak persis sama:

begitu tenang, bermacam arah tak terduga.


Atau seperti itukah kecantikan, pikirku,

ketika diam dan pandangmu memuat makna berbeda?


Itukah kecantikanmu, pikirku, di mana

kata-katamu yang berhamburan ingin

menggapai seluruh ujung dunia, seluruh

arah yang tak persis terlihat.


Begitulah cintaku padamu, seperti

kukagumi pohon-pohon itu,

yang mendesakkan ilham padaku:

meski sederhana, akar yang tenang

dan yang meronta banyak cara pandang.


11 – 2o April 2oo8

Rabu, 20 Februari 2008

Puisi Biografi

Oleh: Bandung Mawardi

Kenangan, Fiksi, Biografi

Orang-orang tak mau membuat kenangan
dari bahasa-bahasa miskin
yang bunuh diri di ruang tamu.
Lelaki berlari jauh membawa fiksi
dan biografi kotor untuk ingatan
pada kelelahan memberi kisah-kisah panjang.




Kisah, Sejarah, Tangisan

Orang yang mau bertanya salah
selalu kembali ke belakang rumah
minta doa dan mimpi.
Perempuan datang pesan kisah-kisah lain
dengan sejarah dan tangisan.




Nostalgia, Puisi, Iklan

Pertemuan menyimpan nostalgia malu
dari puisi dan iklan-iklan murahan.
Siapa membuka kamar
yang kehilangan buku-buku bekas?
Lelaki membuat gelap dan kabut
dengan tubuh kurus
dalam tabrakan referensi.



Perempuan, Biografi, Lelaki

Perempuan lupa mengatakan sedih
atau khilaf yang datang pada malam hari
ketika mengantarkan biografi lelaki.



Orang, Kitab Suci, Televisi

Jangan berhenti di jalan besar!
Orang-orang mau percaya pada
pembohong-pembohong yang berdiri
dengan kitab suci palsu dan televisi.


Perempuan, Puisi, Prosa

Perempuan itu jadi malu
membaca puisi dan prosa
yang tidur di dalam kamar.
Lelaki percaya untuk menuliskan hidup
dalam kalimat yang tak lekas mati.



Fiksi, Kisah, Doa


Lelaki dan perempuan bertemu
membuat fiksi panjang. Membaca dan menulis
kisah dan khayal yang berjalan dalam doa kecil.


Dimuat dalam majalah GONG edisi 97/IX/2oo8

Kamis, 07 Februari 2008

Puisi-puisi Pigura

Oleh: Haris Firdaus


Sebuah Pigura Tua Tanpa Potret

Ayah sangat menyukai pigura tua tanpa potret

yang ia gantung di kamar mandi. Pigura itu

mengingatkan ia pada cinta pertamanya.

Cinta pertamanya membawa ayah pada cerita

fiksi dan bau deodoran remaja. “Kalau sudah begitu,

ayah lebih suka memandang kehidupan lewat

halaman tabloid porno.”

Pigura itu sering mendengarkan ayah membaca

puisi di kamar mandi. Puisi yang dibaca ayah

membawa sepi dan musim kemarau ke kamar

mandi. “Pigura itu seharusnya diisi dengan buku

dan kenangan cetakan lama yang tak lagi dicetak

ulang,” kata ayah.

2007

Dalam Pigura Bekas di Toko Loak,

Aku Menemukan Kita dan Masa Lalu

Aku menemukan kita dan masa lalu

dalam pigura bekas di sebuah

toko loak tengah kota

saat anak-anak sibuk bermimpi

menyusuri masa lalu dengan mesin

yang dikeluarkan Doraemon

dari kantong ajaibnya.

Mereka melewati lorong yang

setengah terang warna-warni

dan setengah gelap,

sambil bercanda tentang apakah

yang dilakukan ibu mereka

kala mereka menangis saat dulu

masih bayi.

“Kalau kau jadi Doraemon,

akankah kau juga mengeluarkan

mesin waktu itu demi masa lalu kita

yang penuh bau asam, tapi juga

semacam bahagia?”

Kau diam, dan anak-anak itu

masih sibuk berdebat tentang

jawaban dari khayalan mereka.

“Ibu mungkin mengayun-ayunkan

kita dalam ayunan dari kain lusuh

yang biasa ia gunakan buat

menggendong kita,” kata salah

seorang anak, sok tahu.

“Kalau kau jadi anak-anak,

akankah kau berdebat tentang

seandainya kita masih bersama

menyusuri pohon cemara dan

memetik daun-daun hijau, sambil

sesekali saling pandang

dan malu-malu?”

2007


Negara yang Membangun Pigura

dari Kertas Palsu

“Kita tinggal di negara yang membangun

pigura dari kertas palsu yang berkualitas

buruk, Nak,” kata ayah suatu kali.

Tapi di sekolah, guru-guru memajang dan

memamerkan pigura-pigura itu dengan

bangga.

Saya pandangi wajah-wajah mereka

suatu kali, lalu saya temukan mereka

adalah juga foto-foto tua yang kusam

dan diselubungi nyamuk warna hitam.

“Merekalah yang sebenarnya menyelubungi

nyamuk warna hitam itu,” ayah mengingatkan.

***

Para guru itu mungkin datang dari sebuah dongeng

tentang para budak yang diperintahkan raksasa

buat membodohi anak kecil yang ingin belajar

membaca.

Mungkin pula, mereka datang ke negeri ini

lewat sebuah pesan singkat dari handphone

yang tersambung lewat internet ke sebuah

warung kopi di mana para peronda sedang

berjaga ditemani kopi pahit hidup mereka.

“Malam itu, negara tidak ikut minum kopi, Nak.

Ia sudah capek karena siang tadi kelelahan

membuat pigura.”

2007




Pigura dan Ibu yang Berjaga

Aku senantiasa berjaga untuknya

demi semacam rahasia dari pigura

masa lalu

Dan tangan ibu tak henti-hentinya siaga

di dekat pigura tua bergambar ayah

yang gemuk.

Matanya seperti menangkap

bau bulan yang lama tak diciumnya.

“Bisakah kau cuci semua perabotan

masak kita, Nak? Hari ini aku akan masak

jauh lebih banyak karena ia bersama kita.”

***

Hari ini, ia akan datang untuk

merasakan sup ayam kesukaannya

yang di surga tak tersedia,

lalu segera pergi.

Apakah di surga ada pigura bergambar

ibu yang cantik? Apakah di sana ayah

juga akan berjaga seperti kau yang berjaga?

“Tentu. Ia akan berjaga jauh lebih lama

dan memasak jauh lebih banyak

dari biasanya.”

2007



(Dimuat dalam Buletin Sastra Litera Edisi 1 Februari 2008

Rabu, 23 Januari 2008

Puisi-puisi Novel

oleh: Bandung Mawardi

Novel 1

di jalan kecil

menata bahasa dan kisah kecil

tokoh-tokoh masuk kafe

memesan minum dan politik kota

seks dan kerja jadi sisa obrolan

di luar kafe ada lapar dan gelisah

Novel 2

sejarah fiktif

mengenang peristiwa tak biasa

memanggil tahun dan kota

membuat bab-bab dari ingatan

fiksi yang berjalan jauh

tanpa manuskrip dan peta

Novel 3

perempuan

dalam cuaca dingin

terima kabar

dari sedih dan mimpi

perempuan dalam novel

menghuni rumah besar

hidup dengan kata dan peristiwa

Novel 4

berhenti di toilet

membuka pakaian

dan cerita kotor

tubuh tak selamat

dari uang dan iklan

menulis waktu yang pendek

menulis bahasa yang kalah

Novel 5

laki-laki marah dan mabuk

membual sejarah politik

dan lapar yang nakal

perempuan hilang

yang tidak membawa

kalimat dari ayah

laki-laki dan perempuan

tak selamat

pada halaman terakhir

(Dimuat di Seputar Indonesia, 2 Desember 2007)

Ibu Memasak Gurindam


oleh: Bandung Mawardi

Ibu memasak gurindam di dapur. Ayah pergi

dari rumah. Pintu rusak dan kunci hilang.

Piring kotor tak ada yang mencuci. Ibu bingung

mencari doa di lemari. Sejak dulu ayah tak mau mencium ibu.

Tak ada yang minta alasan. Dusta menumpuk di ember.

Baju ayah dan ibu bertemu. Percakapan absen

selama hujan pendek. Ibu tak lupa pergi ke masa lalu.

Membaca malu dan dusta yang terus hamil.

Ayah tak bisa menulis pesan. Kalimat yang terakhir bukan khianat.

Sejak itu ibu dan ayah tidak ingin marah. Ibu menata gurindam

di kamar mandi. Alamat-alamat lama terbaca.

Ibu malas mencari foto-foto jelek. Pintu dapur lupa dikunci.

Ibu takut dengan aib yang lari. Ayah letih mengingat kebun.

Duka dan perut jadi kisah sedih. Ibu makan sendiri.

Gurindam tak bisa habis. Pasar ramai dengan berita dan uang.

Rumah sepi dan miskin. Ibu tak pernah menerima tamu.

Ayah takut pulang. Ibu tua dan mati di dapur.

Gurindam tidak jadi warisan.

(Pemenang Harapan Sayembara Penulisan Puisi Raja Ali Haji Award 2007 – Dewan Kesenian Kepulauan Riau)